Rhet.O.Ric Coffee Unplug, Kedai Open Bar di Palembang

Perjalanan pulang melintasi Jalan Mayor Ruslan, Palembang membawa saya ke sebuah kedai kopi. Belum ada dua bulan usianya namun cukup menarik perhatian saya. Desain tempatnya terbuka seperti pujasera dengan panggung mini di satu sisinya. Barnya pun berhadapan langsung dengan pintu masuk. Dan untuk pertama kalinya di Palembang, saya mendapati kedai kopi dengan konsep open bar.

Saya langsung duduk di depan bar dan berbincang langsung dengan Rinald, owner dari kedai kopi yang bernama Rhet.O.Ric Coffee Unplug. “Saya mau pengunjung bisa duduk sambil melihat proses pembuatan minuman kopi. Tidak sekedar pesan, duduk, dan menerima jadi pesanannya”. Jelasnya tentang konsep kedai ini. Di hadapan saya terdapat lima stoples single origin, mulai dari Toraja, Aceh Gayo, Papua Wamena, Kintamani, dan Mandailing. Lengkap dengan keterangan karakteristik acidity dan body yang dimiliki masing-masing kopi. Semua disangrai medium dengan alasan sederhana. Lebih fleksibel untuk diolah menjadi minuman.

Sore itu Rinald siap menunjukkan jati dirinya sebagai barista. Tanap ragu dia meminta saya menyebutkan kopi seperti apa yang saya mau. “Enak itu relatif. Kopi yang menurut saya enak belum tentu menurut orang lain enak. Pelanggan mau yang seperti apa, itu yang saya buat,” begitu katanya. Dia lalu menggunakan Hario V60 untuk menyeduh kopi Toraja. Dia pun menjamin biji kopi yang digunakan masih belum lama sejak tanggal sangrai. Ada roastery langganannya di Kota Palembang ini.

Sambil menunggu kopi pesanan saya siap saya melihat ada beberapa anak muda yang berkumpul di bar tersebut. Rupanya mereka adalah barista dari beberapa kedai lain yang kebetulan sedang menunggu giliran jam kerja mereka. Ada pula beberapa pengunjung yang sedang menikmati latte. “Saya tidak bisa latte art“, Rinald dengan jujur mengakui. Namun keseriusannya di dunia kopi ditunjukkan dengan kegigihannya belajar secara otodidak sejak tahun 2012. Rasa maupun konsep kedai bukan hal yang main-main untuknya.

Menyajikan kopi Toraja dengan body tebal seolah tidak cukup. Rinald pun menawarkan satu cangkir kopi Kintamani yang diseduh dengan Kalita Dripper. Kali ini dia memainkan acidity yang merupakan ciri khas kopi Bali. “Yang enak dari open bar, pengunjung bisa request apa yang dia mau secara spesifik, nanti kita buatkan. Pengunjung juga bisa minta ditonjolkan karakter dari kopi tersebut”. Sambil menikmati cangkir kedua, seorang pengunjung datang dan duduk di sebelah saya. Dia mengaku menderita maag jadi dia perlu kopi yang aman untuk lambung. Rinald pun menyanggupi. Sebuah tantangan yang disambut dengan jantan!

Sayangnya malam itu tidak tersedia espresso untuk saya cicipi. Persediaan blend untuk espresso sedang kosong di roastery. Maklum, blend yang Rinald gunakan memang khusus dan hanya dia menggunakan blend itu di Palembang. “Saya ingin espresso saya tetap terasa ‘manis’ dan bersahabat di lidah orang yang tidak biasa”, demikian jelasnya.

Obrolan makin larut terutama mengenai bisnis kopi di Palembang. Juga pentingnya mengedukasi masyarakat, petani, dan peminum kopi masih menjadi misi bagi Rinald dan rekan-rekan sejawatnya. Mengakhiri perjamuan, saya mengetuk bar dengan mantap, menjabat erat tangannya juga pengunjung di sebelah saya, lalu beranjak pulang. Kalimat penutup dari Rinald sebelum saya pulang adalah, “Enaknya ngopi, bisa nambah teman”. Saya setuju, Anda?

KopiDewa mengundang AbdiKopi semua untuk berbagi cerita dan pengalaman yang berhubungan dengan dunia perkopian. Kirim foto dan tulisanmu kepada KopiDewa untuk bergabung menjadi kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *