Luthier Coffee, Kedai Kopi Specialty

Sebuah kedai kopi dengan jargon The Specialty hadir di kota Palembang belum lama ini. Lokasinya di Jalan Bangau, tepat di seberang Universitas Musi Charitas. Tak sulit menjumpai Luthier Coffee yang menempati ruko dua lantai ini.

Kehadiran saya disambut oleh Erik, sang barista. Luthier menyajikan tempat yang berbeda dengan kebanyakan kedai kopi sebelumnya. Interior bernuansa kayu membuat suasana nyaman dan hangat. Kontras dengan barnya yang sangat mewah, dingin, dan elegan. Impresi awal yang sangat menarik. Dari luar, tempat ini terlihat menyerupai kafe tempat nongkrong. Pun dari dalam terlihat keseriusan pengelolaan tempat ini.

Tersedia empat kopi single origin sore itu. Colombia San Marcos, Colombia Buena Vista, Ethiopia Chelelektu, dan Indonesia Wahana Estate. Lengkap dengan rincian flavor notes dan pilihan seduhnya, saya memantapkan diri memilih Buena Vista dan Chelelektu. Memenuhi rekomendasi Erik, keduanya diseduh menggunakan V60.

Kopi Colombianya kaya rasa dengan body yang sangat tipis. Menemani saya menikmati konsep yang ditawarkan kedai ini.  “Kita memang tidak pernah sedia banyak single origin. Apa yang ada kita sediakan. Begitu habis baru kita ganti”. Erik menjelaskan. Dia menambahkan bahwa beans yang ada di kedai itu adalah pilihan dan terbaik. Siklusnya pun tak lama, sekitar dua minggu selalu ganti. “Dengan begitu, pengunjung dipaksa merasakan berbagai single origin, tak terpaku pada satu dua macam saja”.

Beberapa pengunjung mulai berdatangan ketika seduhan kedua, Ethiopia Chelelektu, dihadirkan. Body-nya jauh lebih tipis dengan rasa yang jauh lebih kaya. “Tidak selalu harus beans impor kok. Sebelum ini kita punya Blue Batak, habis kurang dari seminggu. Peminatnya justru banyak”. Sebuah pengungkapan yang adil. Bukan soal impor atau lokal, tapi cita rasa yang ditawarkan. Juga selera.

Beroperasi sejak 1 Juni 2016 lalu, Luthier Coffee seolah mengukuhkan diri sebagai spesialis kopi. Meski terdapat beberapa menu makanan ringan juga berat, Luthier tetap berfokus pada kopi. Dengan ‘perlengkapan tempur’ yang sangat memadai, keseriusannya tak perlu dipertanyakan. Konsep pergiliran single origin cukup menarik walau beresiko. Pengunjung “dipaksa” menikmati beans yang tersedia, apa pun yang ada.

Kunjungan ke kedai menghadirkan satu dimensi berbeda untuk saya. Tak melulu soal idealisme berbungkus kesederhanaan, tapi membuat mengemasnya menjadi bisnis. Kebiasaan serta perspektif baru pun ditularkan bagi penikmat kopi di kota ini.

KopiDewa mengundang AbdiKopi semua untuk berbagi cerita dan pengalaman yang berhubungan dengan dunia perkopian. Kirim foto dan tulisanmu kepada KopiDewa untuk bergabung menjadi kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *