History Coffee, Kopi Berkualitas di Atas Kesederhanaan

Sore itu saya bergegas menuju daerah Seberang Ulu, Palembang. Kabarnya ada tempat ngopi yang baru dibuka di sana. Benar saja, tepat di tepi Jalan Ahmad Yani, terdapat papan nama bertuliskan History Coffee.

Kesan sederhana begitu kentara dari tempat ini. Meja berjejer memanjang satu baris dari depan bar hingga ke luar dengan kursi kayu kasar tanpa amplas. Lampu pendar kuning ikut memberikan warna hangat di kedai yang menempati satu pintu ruko ini. Ketika saya tiba, satu pengunjung sedang nikmat menghirup kopinya.

Saya pun disambut langsung oleh sang pemilik. Iyan, demikian ia biasa dipanggil. Namun dia lebih memilih disebut sebagai barista. “Barista itu bisa owner, bisa pembuat kopi, bisa penyaji”, terangnya. Beberapa single origin tersedia di sini, mulai dari Papua, Bali Kintamani, Aceh Gayo, Sidikalang, juga Mandailing. Namun Iyan merekomendasikan Solok Sumbar yang diseduh dengan V60 sebagai jagoannya. Dia bahkan menjamin seduhannya tidak akan mengecewakan saya.

Sementara Iyan menyeduh, saya mengambil beberapa spot terbaik untuk difoto. Interiornya yang menarik dipenuhi gambar jenis-jenis kopi espresso, karakteristik kopi, alat-alat manual brew, hingga proses kopi dari pohon sampai jadi secangkir kopi. Informatif!

“Saya senang kalau pengunjung yang datang tak cuma minum, tapi juga mau belajar tentang kopi. Tujuan saya memang ingin mengedukasi masyarakat”. Begitu Iyan menjelaskan mengapa ia mendirikan History Coffee, meninggalkan pekerjaannya sebagai barista yang telah ia tekuni sejak enam tahun lalu di beberapa coffee shop ternama termasuk di Jakarta.

“Palembang ini potensial kok untuk bisnis kopi, kalau memang ditekuni secara serius”. Iyan menegaskan kembali pilihannya. Konsistensi citarasa kopi adalah yang terutama menurutnya. Saya melihat menu, memang tak banyak pilihan makanan yang disediakan, kebanyakan hanya berupa kudapan saja.

Sambil mengobrol segelas kopi Solok Sumbar pun siap dihidangkan. Acidity yang rendah dan body yang ringan menemani aroma tobacco yang jelas tercium. Rasanya sayang untuk menghabiskannya sekaligus. Melihat senyum saya saja, Iyan tahu, kopinya telah berhasil menaklukkan saya.

“Saya berusaha menonjolkan karakter masing-masing kopi. Buat Solok ini, saya tonjolkan aromanya yang memang khas”. Demi memaksimalkan usahanya ini, Iyan mengaku menyangrai sendiri biji kopi, bahkan dengan alat handmade buatan sendiri. Iyan juga menjamin kopi yang disajikan berumur kurang dari sepuluh hari sejak tanggal roasting. Kopi bagus tidak harus mahal, itu yang membuat Iyan menggunakan peralatan sendiri yang tidak secanggih coffee shop mahal, tanpa mengurangi kualitas tentunya.

“Kopi tidak pernah salah, tidak ada kopi yang terlalu pahit, atau terlalu asam. Tugas barista adalah membuat dan menyajikan kopi sesuai dengan selera konsumen”. Memuaskan pengunjung, itulah kepuasan utama dari dirinya. Dan saya senang mengatakan padanya, seduhannya sore itu memang telah memuaskan saya.

Beranjak malam, pengunjung semakin ramai. Harus saya katakan, Palembang punya harapan dalam industri ini. Iyan tidak sendirian. Ia bersama rekan-rekannya terus mencoba tidak hanya mengembangkan bisnis kopi, tetapi juga mengedukasi masyarakat akan kopi. Salut!

KopiDewa mengundang AbdiKopi semua untuk berbagi cerita dan pengalaman yang berhubungan dengan dunia perkopian. Kirim foto dan tulisanmu kepada KopiDewa untuk bergabung menjadi kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *