Coffeephile, Pencetus Kedai Kopi Serius di Sumatera Selatan

Kedai kopi itu bernama Coffeephile. Berlokasi di Plaju, Palembang tepatnya di depan Universitas Muhammadiyah Palembang. Sudah setahun lebih kedai ini menjadi tempat nongkrong mahasiswa Muhammadiyah. Untuk sekedar ngopi, ngobrol, sampai mengerjakan tugas kuliah yang padat. Malam itu saya sengaja ke sana setelah membuat janji dengan pemiliknya.

Tidak ada alat seduh manual terlihat di sini. Tak terlihat juga pilihan minuman kopi seduh manual di buku menunya. Sajian default kedai ini adalah kopi tubruk. Alasannya sederhana, kopi tubruk gampang dibuat. Tidak dibutuhkan barista untuk menyeduhnya. Mayoritas pengunjung pun bukan penikmat kopi serius yang paham dengan berbagai teknik seduhan (brewing). Mereka terbiasa minum kopi tubruk sebagaimana kebiasaan orangtua mereka yang juga diajarkan orangtua mereka sebelumnya. Turun temurun.

Adalah Asep, salah satu dari empat pemilik, yang menuturkan bahwa selain metode seduh kopi Coffeephile pun berniat menonjolkan kopi lokal Sumatera Selatan. Pagar Alam, Lahat, Empat Lawang, Oku Selatan, Semendo adalah daerah penghasil kopi unggulan Sumatera Selatan. Walaupun terkenal dengan robustanya, kopi Semendo yang ada di kedai ini adalah jenis arabika. Kopi pun langsung dibeli dari kebun kopi di daerah untuk menjamin kualitas dan ketersediaan, sekaligus menjadi brand mereka sebagai penyokong kopi lokal.

Mimpi para pemilik kedai ini sungguh luar biasa. “Kami memiliki semacam khittah yang mungkin terdengar muluk: ingin menghapuskan mafia kopi!” Atas dasar itulah kedai ini berfungsi tidak sekedar tempat bisnis namun juga sarana edukasi, baik untuk masyarakat awam maupun para penikmat kopi. Dengan melakukan pembelian secara langsung (direct trade), mereka ingin menunjukkan bahwa petani bisa hidup dengan sangat layak dari kebun kopi. Ditunjang dengan pengolahan dan sortasi yang baik dan benar juga harga jual yang wajar.

Berlatar belakang anak petani dan terjun langsung dalam komunitas Palembang Berkebun, Asep terus semangat berjuang di usia Coffeephile yang kedua tahun. Setelah tahun pertama sukses mengokohkan diri sebagai tempat nongkrong generasi muda, di tahun kedua ini mereka mulai mencoba menawarkan menu manual brew. Alat seduh yang selama ini tersimpan rapi akan mulai dikeluarkan.

Saya disajikan dua jenis kopi sore itu, arabika Semendo dan robusta Oku Selatan. Keduanya diseduh dengan dua metode berbeda yaitu menggunakan V60 dan tubruk. Hasilnya memang luar biasa. Robusta Oku Selatan memiliki pahit khas robusta dengan acidity yang rendah. Sedangkan arabika Semendo memiliki acidity yang kuat baik ketika ditubruk maupun dengan V60.

Asep dan rekan-rekan sangat berharap akan adanya sinkronisasi yang baik dari hulu hingga hilir industri kopi. Edukasi petani sangat penting sehingga mereka dapat membuat hasil produksi berkualitas tinggi. Ditopang pula oleh konsumen yang mengerti kualitas kopi tak hanya sebagai komoditas dagang tapi juga sebagai sebuah karya seni kuliner. Potensi yang ada di Sumatera Selatan masih bisa berkembang pesat karena sebagian besar kebun kopi masih dimiliki oleh masyarakat, belum ada milik pemerintah, BUMN, maupun swasta. Tentunya hal ini juga menjadi tantangan dalam hal edukasi terhadap petani.

Soal ‘kontroversi’ kopi tubruk, Asep mempunyai pendapat sendiri. “Buat saya, kopi yang benar yaitu kopi nikmat, kopi yang habis diminum begitu disajikan. Menggunakan metode dan alat seduh apa pun. Dengan atau tanpa gula”. Anda bisa jadi tidak sepakat. Namun disertai keyakinan besar, jalan yang telah ditempuh Asep dan rekan sejak April 2015 ini telah menjadi tonggak kemunculan kedai kopi serius di kota Palembang, bahkan Sumatera Selatan.

KopiDewa mengundang AbdiKopi semua untuk berbagi cerita dan pengalaman yang berhubungan dengan dunia perkopian. Kirim foto dan tulisanmu kepada KopiDewa untuk bergabung menjadi kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *