Panduan Seduh Kõno Meimon

[row]

[col span=”2/3″]

Pengantar

Walau sudah dipasarkan dari tahun 1973, Kõno Meimon baru mulai terkenal di tahun 2000. Banyak yang menyamakan teknik seduh V60 dengan Meimon. Padahal bentuk alur Meimon yang menahan laju air akan membuat kopi menjadi over-extracted jika diseduh menggunakan cara Hario.

Berikut langkah-langkah penyeduhan kopi menggunakan si cangkir bolong buatan Jepang.

[/col]

[col span=”1/3″]

Alat dan Bahan

Kõno Meimon ukuran 1-2 cup
Filter kertas Kõno
Penggiling kopi
Timbangan
Termometer
Teko leher angsa
Stopwatch
25 gram kopi
350 ml air panas

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 1″ style=”center”]

Lipat filter mengikuti garis sambungan lalu taruh di dalam corong penyeduh. Letakkan corong penyeduh di atas teko saji.

[ux_image id=”4741″]

[gap height=”30px”]

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 2″ style=”center”]

Timbang kopi sebanyak 25-27 gram. Disarankan untuk menimbang kopi lebih banyak 1-2 gram dari yang akan digunakan, karena seringkali berat kopi berkurang setelah digiling.

[ux_image id=”4751″]

[gap height=”30px”]

 Penyeduh pour over apa pun bekerja di titik optimal saat volume kopi mencapai setengah sampai duapertiga kapasitas maksimalnya. Jika kopi terlalu sedikit penyeduhan akan cenderung under-extracted karena kurangnya tekanan. Jika kopi terlalu banyak, air akan mudah meluap saat proses seduh.

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 3″ style=”center”]

Giling kopi. KopiDewa menggunakan Porlex dengan setelan 6-7 klik dari titik 0 untuk mendapatkan tingkat kehalusan pasir. Sambil menggiling mulailah memanaskan air.

[ux_image id=”4758″]

[gap height=”30px”]

Ukuran lubang bawah Kõno Meimon cukup kecil dan alur yang menahan laju air membuat proses seduh berlangsung cukup lama. Hal ini dapat diimbangi dengan tingkat gilingan kopi yang agak kasar agar hasil akhir tidak over-extracted.

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 4″ style=”center”]

Masukkan kopi yang sudah digiling sebanyak 25 gram ke dalam corong yang sudah diberi filter. Timbang ulang untuk memastikan beratnya sudah tepat. Ratakan gundukan kopi dengan menepuk-nepuk corong.

[ux_image id=”4742″]

[gap height=”30px”]

Keistimewaan dari filter kertas Kõno adalah tidak adanya aroma dan rasa kertas yang terbawa ke hasil seduhan sehingga pembilasan kertas filter tidak perlu dilakukan. Selain itu, material Meimon yang terbuat dari plastik membuat suhu lebih cepat turun dan pre-heating tidak ada berefek apa-apa.

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 5″ style=”center”]

Nyalakan stopwatch dan teteskan air bersuhu 85°C setitik demi setitik hingga seluruh permukaan kopi basah. Usahakan agar tetesan air tidak langsung terkena dinding filter. Lakukan penetesan hingga volume air mencapai 125 ml.

[ux_image id=”4743″]

[gap height=”30px”]

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 6″ style=”center”]

Setelah 125 ml, mulai kucurkan air secara perlahan dengan dengan gerakan memutar tanpa melebihi tinggi permukaan kopi. Kucurkan air hingga volume mencapai 250 ml.

[ux_image id=”4744″]

[gap height=”30px”]

Kunci dari keberhasilan metode pour over adalah kestabilan penetesan air. Selain waktu dan latihan, kualitas teko leher angsa  menentukan tetesan air yang sekecil mungkin tanpa menimbulkan percikan.

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 7″ style=”center”]

Proses seduh menggunakan Kõno Meimon membutuhkan waktu 5-8 menit. Jika lebih dari 8 menit, gunakan gilingan yang lebih kasar. Jika lebih cepat dari 5 menit, kurangi kecepatan meneteskan air.

[ux_image id=”4745″]

[gap height=”30px”]

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 8″ style=”center”]

Kopi Anda telah selesai diseduh. Sebelum menghirup kenikmatannya, segera singkirkan filter dan ampas kopi dari corong penyeduh lalu bilas corong dengan air bersih. Hal ini bertujuan agar corong Meimon yang terbuat dari plastik tidak cepat getas dan warnanya tetap cerah.

[ux_image id=”4746″]

[gap height=”30px”]

[/col]

[col span=”1/1″]

[title text=”Langkah 9″ style=”center”]

Sajikan dengan gelas kecil agar aroma dan rasa lebih terjaga.

[ux_image id=”4747″]

[gap height=”30px”]

[divider width=”medium” align=”center”]

[/col]

[col span=”1/1″]

Kopi, sebagaimana mahakarya kuliner lainnya, selalu mengandung unsur selera dan subjektivitas. Panduan yang disajikan di sini hanyalah acuan dasar yang tidak bisa lepas dari unsur tersebut. Silakan bereksperimen dengan gramasi biji, kehalusan gilingan, suhu air, waktu seduh, dan banyak variabel lain yang membuat teknik menyeduh kopi menjadi sebuah karya seni. Jangan lupa untuk berbagi resep jagoan Anda di kolom komentar.

Baca juga artikel KopiDewa tentang ulasan Kõno Meimon.

[/col]

[/row]

Share
Restu Dewa

Penggemar hampir segala macam minuman kopi dari kopi luwak dan manual brew ala café sampai kapucino cincau pinggir jalan. Mengisi waktu luangnya dengan membuat desain dan tulisan, belajar fotografi, serta bermain musik.

5 Comments

  1. wisnubenu Reply

    mas, di langkah ke 5 disebutkan “Usahakan agar tetesan air tidak langsung terkena dinding filter.” apa akibatnya jika tetesan air langsung menyentuh dinding filter?

    1. Restu DewaRestu Dewa Post author Reply

      Air yang jatuh ke filter lebih cepat mengalir ke bawah dan hanya sebentar terkena bubuk kopi. Hasilnya ekstraksi kopi jadi tidak maksimal dan kopi jadi watery.

      Mudahnya, kita kan nyeduh kopi, bukan nyeduh filter. Hehehe!

  2. rizal Reply

    mas perbedaan antara kono dengan merk lain apa ya..???
    kalau saya perhatiin bentuk dan cara pembuatan nya ga beda jauh
    mohon pencerahannya mas….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *