Adi Taroepratjeka, Instruktur Q-Grader Pertama Indonesia

Bagi masyarakat umum, Adi Taroepratjeka dikenal sebagai pembawa acara “Coffee Story” yang diputar di Kompas TV tahun 2011-2015. Namun bagi pelaku usaha kopi, mas Adi (demikian saya memanggil beliau) adalah sumber pengetahuan tentang dunia kopi yang ilmunya belum pernah habis digali.

Jangan tertipu dengan janggut tebalnya yang mungkin sedikit mengintimidasi. Sosok beliau sangat mudah akrab dengan banyak orang dan jokes segar pun tak jarang terlontar dengan spontan.

Dengan segudang achievement yang telah diraih, di antaranya menjadi orang Indonesia pertama yang bergelar Q Grader Instructor, mas Adi tetap ramah dalam menjawab semua pertanyaan. Berikut hasil bincang santai dengan Adi Taroepratjeka.

Sejak kapan mas Adi menjadi peminum kopi?

Ayah saya tidak mengizinkan saya minum kopi sampai saya berumur 18. Sampai akhirnya saya mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat pada tahun 1993. Dengan bahasa Inggris yang terbatas saya berusaha ngobrol dengan orangtua angkat saya. Saya perhatikan mereka adalah adalah pecinta kopi dan mendapat kiriman kopi dari berbagai daerah setiap bulannya.

Sok-sokan saya ikut mencicip kopi yang mereka minum. Pahit banget! Tapi saya perhatikan, kopi bisa jadi pembuka obrolan dengan orangtua angkat saya. Lebih lanjut, saya pun mulai mendapatkan rasa unik di balik rasa pahit kopi dan mulai bisa merasakan perbedaan kopi satu dengan yang lain.

Pulang ke Indonesia saya kembali menjadi anak SMA bokek yang gak punya duit untuk ngopi. Tak habis akal, saya membeli kopi Aroma (Bandung) dalam kemasan paling kecil lalu mulai berimajinasi. Kalau kopi Aceh rasanya kayak gini, Acehnya kayak gimana ya? Kopi Jawa rasanya gini, kebunnya seperti apa ya? Dengan secangkir kopi, pikiran saya bisa traveling ke mana-mana seluruh Indonesia.

Berarti lulus SMA langsung mendalami kopi?

Oh, nggak. Awalnya saya ingin belajar fotografi di Amerika. Karena tidak ada biaya akhirnya saya masuk arsitektur. Tidak kuat di arsitektur saya masuk perhotelan dengan spesialisasi dapur.

Dari situ saya membuka kedai kopi kecil-kecilan dengan mesin kopi seadanya. Masih dengan ilmu yang didapat secara otodidak karena di masa itu belum ada internet sekencang sekarang. Buka web full text saja lambat, apalagi Youtube. Dijamin buffering.

Saat ada reuni keluarga di Makassar, saya main ke kebun kopi Toarco Toraja. Dari situ saya tahu bahwa saya bisa mempelajari kopi lebih serius di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember. Sekitar tahun 2005 saya dan Mia, waktu itu calon istri saya, mengunjungi Jember dan menjadi orang aneh. Kami dikelilingi orang kebun, trader kopi profesional, dan orang-orang yang lebih lama berkecimpung di dunia kopi.

Di sana kami mengetahui bahwa kopi yang oleh para profesional dianggap cacat buat kami malah menarik. Kopi yang menurut standar mereka bagus buat kami malah ngebosenin.

Lalu kapan mas Adi menjadi seorang Q Grader?

Tahun 2009 SCAI mengadakan eksperimen kelas Q Grader pertama di Indonesia. Biaya kelasnya hanya Rp3.000.000 dengan lama kelas masih 5 hari, belum 6 hari seperti sekarang. Saya pun belum tahu apa-apa tentang Q Grader waktu itu. Instrukturnya orang Amerika, diadakan di Gedung BRI II Sudirman, Jakarta.

Namun waktu ikut kelas itu saya jadi melihat bahwa banyak yang bisa dilakukan untuk Indonesia dari sisi kopi. Saya sudah mendapat banyak dari negeri ini lalu berfikir bagaimana caranya bisa memberi imbal balik. Dari situ saya memutuskan untuk menjadi instruktur Q Grader. Supaya pendidikan tentang kopi bisa lebih terjangkau dan ilmunya menyebar ke lebih banyak kalangan.

Jadi itu motivasi utamanya mendirikan 5758 Coffeelab?

Well, sampai beberapa tahun yang lalu saya masih naif dalam artian saya ingin petani dan banyak orang jadi Q Grader. Namun seiring berjalannya waktu saya mempelajari kalau pengetahuan Q Grader tidak terlalu dibutuhkan oleh petani.

Dengan adanya 5758 Coffeelab saya bisa membuat kelas-kelas yang lebih tepat sasaran dengan pengetahuan yang lebih aplikatif di lapangan. Seorang barista mungkin lebih membutuhkan kelas brewing daripada ilmu Q Grader.

Sedikit ajaib sih, saya jualan kelas Q Grader tapi saya selalu menanyakan kepada calon peserta motivasinya menjadi Q Grader itu apa. Karena dengan biaya yang tidak sedikit saya tidak ingin ilmu yang didapat jadinya sia-sia.

Kalau program 5758 Coffeelab ke depan apa saja?

Balikin modal, hahahaha!

Kalau yang sudah terlaksana adalah membuat kelas Q Grader dengan instruktur dari Indonesia dan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Selain biaya yang lebih terjangkau, tingkat kelulusannya pun jauh lebih tinggi. Dengan instruktur dari luar negeri tingkat kelulusan rata-rata adalah 30%. Dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia tingkat kelulusan bisa mencapai 60-70%.

Cita-cita jangka panjang adalah membuat kelas untuk petani. Saat ini kami belum paham kelas apa yang paling dibutuhkan oleh petani. Saya tidak ingin petani yang telah ikut kelas pulang dengan ilmu yang mubazir karena tidak tepat guna. Kami pun masih menghitung berapa nilai ekonomis yang terjangkau oleh petani.

Saya tidak mau membuat kelas gratis dengan alasan sederhana. Dengan kelas gratis, orang lebih susah untuk mengapresiasi. Saat berbayar, orang akan lebih menghargai ilmu yang dia dapatkan. Di sisi lain, saya pun tidak ingin membebankan biaya yang terlalu berat juga. Mencari titik tengah itu yang sulit.

Terakhir, apa sih yang akhirnya membuat mas Adi jatuh cinta pada kopi?

Kopi itu bukan cuma soal produk, tapi soal kebersamaan. Kita ga bisa menilai kopi hanya dari rasanya. Kopi enak diminum sendirian saat galau bisa jadi ga enak. Kopi dengan rasa biasa diminum bareng teman-teman sambil berdiskusi panjang akan terasa lebih nikmat. Kopi bisa jadi icebreaker yang ampuh di mana pun, kapan pun.

4 Komentar

  1. Rudy Ersan says:

    Keren infonya mas….salam kenal dari Kopi Tanah Air Kita…semoga kami bisa diinfo pic mas adi dan kopidewa agar bisa saling share demi Surga Kopi Indonesia..tq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *