Wajah dan Citarasa Kopi Sumatera Selatan

Pada Kamis pagi tanggal 30 Juni 2016, saya diundang menghadiri acara bincang kopi bertajuk Wajah dan Citarasa Kopi Sumatera Selatan. Berlokasi di Hotel Daira, Jalan Sudirman, Palembang, acara yang diadakan pecinta dan penggiat kopi di Palembang tersebut dimulai sejak pukul 9 pagi.

Ibu Salama Sri Susanti, ketua Forum Pendamping UMKM, berhasil memandu bincang-bincang ini menjadi seru. Pembicara yang hadir pun memiliki kapasitas formal dan teknikal dalam bidang kopi. Sebut saja Pak Aswari Rivai, Bupati Lahat, yang wilayahnya merupakan satu dari enam penghasil kopi di Sumatera Selatan. Selain Lahat wilayah penghasil kopi lainnya adalah Pagar Alam, Muara Enim, Empat Lawang, OKU, dan OKU Selatan.

Ada juga Pak Harry Hartanto, Sekretaris GAPKI Sumsel, yang juga terjun langsung dalam industri kopi. Meski kebun kopinya berada di Sumatera Utara, beliau memiliki pengetahuan yang luas mengenai kopi dan seluk beluk bisnisnya.

Presentasi menarik ditampilkan dari perwakilan Dinas Perkebunan Sumatera Selatan. Berbekal slide apik dan informatif Pak Rudi dapat memaparkan besarnya potensi perkebunan kopi yang masih jauh dari maksimal. Tak kalah penting adalah kehadiran Pak Mulutan. Petani kopi binaan Muara Enim yang telah sukses meingkatkan kualitas kopinya.

Tercetus pertanyaan menarik nan menggelitik di awal acara. “Apakah kopi Sumatera Selatan bisa menjadi welcome drink di hotel dan restoran pada gelaran Asian Games 2018 di Palembang mendatang?”. Pertanyaan tersebut memberikan semangat bagi peserta sekaligus menjadi bahan obrolan terkait seberapa serius para stakeholders kopi Sumatera Selatan.

Peserta yang hadir terdiri dari berbagai kalangan dan profesi. Mulai dari penggiat UMKM, para barista se-Palembang, rekan jurnalis dan media, para pemandu wisata, hingga orang awam yang penasaran terhadap kopi lokal Sumatera Selatan. Juga dipamerkan beberapa hasil panen kopi lokal, sehingga peserta yang antusias bisa melihat sendiri kualitas olahan kopi yang telah dilakukan.

Sebagai penutup, harapan dan semangat besar untuk menjadikan kopi lokal sebagai primadona di rumah sendiri semakin menggeliat. Tak hanya kopi sebagai minuman, tapi juga komoditas dagang dan agrowisata.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *