Tea Essential Class, Kelas Teh Dasar Bersama Ratna Somantri

Saya adalah orang yang selalu lebih memilih kopi daripada teh sebagai minuman. Bagi saya, kopi mempunyai aroma dan citarasa yang lebih menarik. Pun saya selalu penasaran dengan kisah panjang di balik secangkir kopi yang saya nikmati. Karenanya, saat 5758 Coffeelab mengadakan Kelas Teh Dasar, timbullah rasa penasaran saya.

Berbeda dengan kelas-kelas 5758 yang biasanya dipandu oleh Adi Taroepratjeka, kelas teh ini menghadirkan Ratna Somantri sebagai narasumbernya. Sebelumnya saya hanya mengenali sosok Ratna Somantri dari kanal Youtube yang memang fokus membahas teh. Pengalamannya sebagai pakar teh sudah menggunung, ditambah dengan beberapa buku tentang teh yang telah ditulisnya. Awalnya sempat timbul perasaan cemas tidak bisa mengikuti kelas karena materinya mungkin terlalu advanced bagi saya. Namun mbak Ratna dapat memberikan materi yang lumayan banyak dengan sangat santai.

Kelas diawali dengan perkenalan tentang teh secara umum, termasuk fisiologi tanaman teh dan sejarah kebun teh di Indonesia. Peserta pun lanjut dikenalkan dengan berbagai proses paska panen daun teh. Tidak mau membuat peserta kelas kebingungan dengan teori, setiap proses teh selalu dicicip di akhir penjelasan. Dua proses atau jenis teh yang berbeda selalu disajikan bersamaan supaya peserta dapat langsung merasakan perbedaan keduanya. Tidak sebatas teori di slide saja.

Di sini saya baru mengerti apa perbedaan white, green, oolong, dan black tea. Yang membedakan antara jenis teh ini adalah proses oksidasi yang terjadi ketika daun teh dipetik. Semakin lama oksidasi terjadi, warna daun teh menjadi semakin gelap (black tea). Bagi saya yang lebih dulu mempelajari kopi, proses ini mungkin bisa disamakan dengan pengupasan buah kopi (natural, honey, dan washed). Sama dengan kopi, proses paska panen pun menentukan rasa akhir secangkir teh.

Peserta pun diajak mencicipi teh dari berbagai negara penghasil teh di dunia. Mulai dari Cina, India, sampai Indonesia. Daerah tanam tentunya mempengaruhi varietas yang dapat berkembang di tempat tersebut. Untuk tanah Indonesia sendiri, Camellia sinensis lebih cocok ditanam daripada varietas assamica. Dengan rasa yang lebih jelas dibanding assamica, orang Indonesia pun terbiasa dengan teh kental dengan rasa dan aroma kuat.

Ada juga teh yang telah melalui proses fermentasi selama belasan sampai puluhan tahun, yaitu teh Pu Erh. Berbeda dengan teh lain yang biasa dijual dalam bentuk daun atau serbuk, teh Pu Erh dikemas dalam bentuk cakram seberat hampir 500 gram. Bentuknya yang unik dibarengi dengan rasanya yang jauh berbeda. Lebih seperti seduhan rempah yang menghangatkan daripada teh yang menyejukkan.

Total teh yang dicicipi pada akhir kelas adalah 12 jenis teh dari berbagai daerah, berbagai proses, dan berbagai rasa. Pada awalnya saya pikir teh tidak lebih rumit daripada kopi. Namun bisa dikatakan teh jauh lebih rumit dengan jenis yang lebih beragam. Jadi untuk sementara, saya lanjutkan dulu saja mempelajari kopi.

Komentar

  1. Vika says:

    Dear writer,
    Tulisan yg bagus. Saya jg mencari tempat training pengenalan teh.
    Bagaimana cara mengikuti kelas ini?
    Mohon jawabannya

    Trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *