Sejarah Warung Tinggi, Kedai Kopi Legendaris di Indonesia

Sejarah Warung Tinggi, Kedai Kopi Legendaris di Indonesia

Sejarah Warung Tinggi, Kedai Kopi Legendaris di Indonesia
“Jika Anda belum mengenal Warung Tinggi, maka Anda belum pantas disebut sebagai penikmat kopi sejati.” Dikutip dari buku berjudul “WARUNG TINGGI COFFEE, Kopi Legendaris Tertua Di Indonesia”.

Sedemikian sakralkah Warung Tinggi ini, hingga untuk menjadi seorang pencinta kopi sejati harus berkenalan dengannya terlebih dahulu? Hal tersebut tidak berlebihan kiranya mengingat reputasi yang telah dibangun kedai kopi ini di Indonesia.

Warung Tinggi, adalah kedai kopi legendaris tertua di Indonesia. Kedai ini telah berdiri sebelum tahun 1900. Tepatnya 34 tahun sebelum kapal Titanic tenggelam yaitu pada 1878. Usianya saat ini kurang lebih hampir mendekati satu setengah abad.

Sekilas Sejarah Warung Tinggi
Membicarakan sejarah Warung Tinggi ini sekiranya tidak lengkap rasanya jika Anda tidak berkenalan terlebih dahulu pada pendirinya. Warung Tinggi didirikan oleh Liauw Tek Soen atau Tek Soen Hoo pada tahun 1878. Membentang indah di jalan Moolen Vliet Oost atau yang sekarang dikenal dengan nama jalan Hayam Wuruk di Jakarta. Kabarnya dinamakan Warung Tinggi karena kedai ini menempati bangunan paling tinggi di lingkungan sekitar pada masanya.

Bagian depan bangunan digunakan untuk berdagang. Sis sebelah kanan difungsikan sebagai warung nasi, sedangkan sisi kiri digunakan untuk toko kelontong. Bagian tengahnya digunakan sebagai tempat berdagang jahitan karya Liauw Tek Soen. Bangunan ini menghadap ke arah sungai Ciliwung, sedangkan kawasan persawahan terhampar luas di bagian belakangnya. Dengan keadaan lingkungan yang menyejukkan, Warung Tinggi pun ramai dikunjungi oleh orang-orang untuk melepas lelah dan bersantai.

Para tamu yang datang akan memesan kopi sambil duduk–duduk santai ditemani makanan ringan dan sebatang rokok yang mengepul perlahan. Mereka akan menutup cangkir kopi pesanan mereka dengan piring tatakan. Sambil menghabiskan sebatang rokok dan mengunyah makanan ringan, tergelarlah obrolan seru seputar kehidupan sehari-hari. Seusai rokok habis, barulah mulut beralih pada cangkir kopi. Cara minumnya juga unik, kopi dituangkan di atas piring tatakan kemudian diseruput pelan-pelan. Begitulah budaya minum kopi pada masa itu. Hingga saat ini, cara menikmati kopi seperti itu masih sering dilakukan.

Walaupun telah didirikan sejak 1878, papan nama Tek Soen Hoo baru ada dan dipasang pada tahun 1939. Tahun 1965 barulah nama Warung Tinggi muncul menggantikan nama Tek Soen Hoo. Sejak saat itulah Warung Tinggi menjadi merk dagang usaha kedai kopi ini. Tahun 1987, Warung Tinggi mulai meninggalkan usaha warung nasi mereka.

Warung Tinggi mulai fokus untuk mengembangkan dan memperluas bisnis kopi mereka. Hingga pada tahun 1994, salah seorang sosok penting di Warung Tinggi yaitu Rudy Widjaya membeli seluruh saham PT. Warung Tinggi dari saudara-saudaranya yang lain. Dia juga membeli sebuah rumah di bilangan Daan Mogot untuk dijadikan pabrik kopi. Namun memasuki millenium baru, pabrik tersebut dijual diakibatkan krisis yang terjadi pada 1998. Selang beberapa tahun kemudian, Warung Tinggi Coffee bergabung di bawah naungan PAM Group. Dan tak lama berselang, Rudy Widjaya mulai merombak besar-besaran sistem manajemen dengan mempekerjakan tenaga profesional. Kedai kopi ini akhirnya berlanjut di bawah naungan Angelica Widjaya putri bungsu Rudy Widjaya.

Begitu panjang sejarah Warung Tinggi, kedai kopi legendaris ini menelusuri perjalanan yang berliku dan mengalami jatuh bangun. Sehingga tidak berlebihan jika sejarah Warung Tinggi pantas kita telusuri sebagai bahan pembelajaran.

Sumber foto: http://www.opco-indonesia.com/

kopidewa

Menyuguhkan fakta dan info lengkap tentang kopi meliputi sejarah, trend, hingga bisnis kopi Indonesia dan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *