Sejarah Kopi Priangan 8 – Hadirnya Kopi Robusta

Membaca Sejarah Kopi Priangan (8) Hadirnya Kopi Robusta

Sejarah Kopi Priangan Bagian 8
Wabah penyakit Hemileia vastratix nyaris memusnahkan seluruh Kopi Arabika di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera termasuk di Priangan. Pemerintah Belanda yang ingin terus mempertahankan dominasinya di pasar kopi dunia melakukan berbagai usaha. Pertama, Belanda mendatangkan kopi liberika namun gagal. Karena kopi jenis ini juga tidak tahan terhadap serangan hama karat daun.

Usaha selanjutnya yang dilakukan Pemerintah Belanda adalah mendatangkan bibit kopi robusta dari daerah Kongo, Afrika. Pada 1881, seorang ilmuwan Belgia menemukan kopi jenis ini. Robusta sendiri berasal dari Bahasa Inggris yaitu robust yang berarti kuat. Terbukti kekuatan kopi robusta ini mampu bertahan dari serangan hama karat daun.

Pada 1907, Belanda memboyong bibit kopi robusta dari Kebun Raya Jardine di Brussel, Belgia ke pulau Jawa. Pembudidayaan kopi robusta ini pun lebih mudah. Syarat penanamannya lebih ringan dari jenis kopi-kopi lain. Kopi ini bisa ditanam di ketinggian kurang dari 1000 mdpl. Di Priangan Kopi Robusta menyebar hingga pelosok. Dalam waktu beberapa tahun, Priangan menjadi penghasil kopi robusta.

Hadirnya kopi robusta tidak hanya disebar di Priangan, dikirim juga ke Pulau Sumatera dan pulau-pulau lain di Nusantara. Karena tanaman Coffea canephora mudah beradaptasi dengan kondisi tanah dan cuaca yang berbeda-beda di Nusantara, kopi ini tumbuh subur di mana-mana.

Sebetulnya kopi robusta mempunya syarat tumbuh pada ketinggian 0-900 meter dari permukaan laut. Akan lebih baik lagi ditanam pada ketinggian 400-800 meter. Suhu rata-rata yang dibutuhkan tanaman ini sekitar 26°C dengan curah hujan 2000-3000 mm per tahun.

Selain karena kekuatannya bertahan hidup, kopi robusta disebuat kuat karena rasanya yang lebih pahit dengan kandungan kafein lebih tinggi dari kopi arabika. Kecenderung rasa kopi robusta adalah pahit dan manis. Kadar gulanya setengah dari kopi arabika.

Belanda berhasil memproduksi kopi robusta secara besar-besaran dan mengisi balai lelang Amsterdam dengan kopi ini. Meski harganya lebih rendah dari kopi arabika, kopi robusta diterima oleh pasar dunia.

Sejarah kopi Priangan jenis robusta lebih panjang dari sejarah kopi arabika. Hingga kini, Priangan masih bertahan sebagai penghasil Kopi Robusta. Awal abad ke-20 sekitar tahun 1900an mendekati masa kemerdekaan Indonesia. Sehingga kaum pribumi bisa menikmati kopi robusta yang lebih pahit. Masyarakat Priangan pun tidak asing dengan kopi pahit namun masih agak canggung dengan kopi asam seperti kopi arabika.

Belanda tidak hanya menggantikan kopi arabika dengan ropi robusta saja, tanaman teh banyak disebar di perkebunan-perkebunan wilayah Priangan. Sehingga Priangan selepas wabah hama karat daun cenderung dikenal juga sebagai penghasil teh terbesar di Nusantara.

Bagi kebanyakan orang Priangan, istilah ‘ngopi’ sudah dikenal turun-temurun. Barangkali kata ‘ngopi’ ini berarti ganda yaitu minum kopi dan minum teh disertai camilan. Kopinya tentu kopi robusta bukan arabika karena kopi itu lebih mudah ditemui dan harganya lebih terjangkau.

Sejarah kopi Priangan berjenis Kopi Arabika seolah hilang ratusan tahun lamanya. Dan sejarah kopi Priangan hadirnya Kopi Robusta terbentang hingga sekarang. Kopi Arabika yang mati suri kembali hidup pada akhir abad 20 dan berkembang pesat pada awal abad 21.

Di tahun-tahun ini, kita tidak lagi sulit mendapatkan kopi arabika dari berbagai daerah di Nusantara. Kopi arabika dan kopi robusta dapat bersanding manis di tanah Nusantara. Keduanya memiliki penggemar dan pasar sendiri-sendiri. 80% wilayah perkebunan kopi di Indonesia masih ditanami kopi robusta. Barangkali nilai presentasi ini akan bergeser mengingat maraknya pembudidayaan kopi arabika di Indonesia akhir-akhir ini. Dan bolehlah kita berharap suatu saat mengulang kejayaan kopi arabika di Priangan.

Komentar

  1. Pingback: Alat Seduh Kopi Vietnam Drip Dan Kisahnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *