Sejarah Kopi Priangan 2 – VOC Melanggar Koffie Stelsel

Membaca Sejarah Kopi Priangan (2): VOC Melanggar Koffie Stelsel

Sejarah kopi priangan Bagian 2
Perjanjian dagang antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dan para Bupati Priangan yang dikenal sebagai Koffie Stelsel atau Preanger Stelsel sebetulnya strategi licik VOC untuk memegang arus kendali perdagangan kopi internasional. Perjanjian dagang itu membuat VOC mendapatkan tanaman kopi yang berlimpah tanpa harus mengeluarkan biaya penanaman, perawatan, dan pengumpulan. Peran pengawasan dibebankan pada para Bupati Priangan sedangkan peran produksi kopi dibebankan pada rakyat.

Dalam beberapa waktu, sejarah mencatat bahwa VOC pernah menguasai perdagangan kopi dunia dengan menggeser Yaman yang selama ini sebagai raja dari pasar kopi global. Keberhasilan VOC dalam memproduksi tanaman kopi secara besar-besaran di Priangan memberikan peluang kepada Belanda untuk menempatkan Amsterdam sebagai pusat lelang kopi dunia. Termasuk dengan menjual kopi-kopi dari pulau Jawa (Priangan).

Awalnya perjanjian Koffie Stelsel antara pihak VOC dan Bupati Priangan untuk membudidayakan tanaman kopi berjalan mulus dan lancar. Namun di tengah jalan, VOC melihat kekayaan para Bupati Priangan bertambah setelah menanam kopi di daerah kekuasaannya. Lama-kelamaan VOC merasa kalang kabut. VOC curiga bahwa kekayaan Bupati Priangan tersebut kelak dipakai untuk merebut kekuasaan mereka di Priangan.

Kongsi dagang Hindia Timur Belanda itu takut, seandainya kekayaan Bupati Priangan dari hasil penjualan kopi diam-diam akan dibelikan senjata untuk menghancurkan VOC. Namun prasangka tersebut hanyalah akal-akalan saja dari VOC. VOC hanya ingin mengontrol keuangan dari masing-masing Bupati Priangan agar tidak terlalu besar pendapatannya

Akhirnya, secara sepihak VOC memotong setengah harga per pikul kopi dari sebelumnya. Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1726 menurunkan harga 1 pikul kopi hanya sebesar 5 rijksdaalder. Kepada Bupati Priangan, mereka meyakinkan bahwa mereka sedang kekurangan uang tunai. Bukan itu saja, VOC mencari-cari alasan lain agar harga kopi di pasar hanya menguntungkan pihak mereka.

Pelanggaran perjanjian Koffie Stelsel menyulut api amarah dari para petani kopi di Priangan. Karena itulah banyak para petani kopi di Priangan mogok bekerja menyebabkan beberapa perkebunan kopi berubah menjadi semak-semak belukar karena tidak diurus lagi.

Sejarah kopi Priangan pun memasuki babak baru. Perubahan yang terjadi akibat pelanggaran perjanjian Koffie Stelsel oleh VOC membuat sebagian Bupati Priangan di beberapa kawasan Priangan mulai dari Residen Cirebon mengeluarkan mandat yang cukup brilian pada tahun 1729. Mandat tersebut adalah mewajibkan setiap keluarga menambah atau menanam 10 pohon kopi di pekarangan rumah masing-masing. Instruksi tersebut pun banyak diterapkan oleh masyarakat di Priangan. Hal ini membuat angka budidaya kopi kembali meningkat dan rakyat pun bisa mandiri dalam mengurus tanaman kopi miliknya.

VOC pun melihat geliat penanaman kopi meningkat kembali. Lalu bertindak sewenang-wenang dengan menarik mandat Bupati Priangan. Penambahan penanaman 10 pohon kopi sebagai tanaman wajib tersebut harus segera dihentikan. VOC mengeluarkan intruksi baru yakni perkebunan kopi di Priangan harus diperluas dan ditambah.

Perintah baru tersebut memperlihatkan dengan jelas kalau VOC mempunyai kepentingan ke wilayah lain, yakni penguasaan sumber daya manusia dan alam. Karena pelanggaran VOC, Koffie Stelsel lebih bersifat tanam paksa. Hukuman semena-mena sering kali terjadi terhadap para petani kopi di Priangan.

Aktivitas VOC di Priangan memang meninggalkan luka dalam bagi para petani kopi priangan dan sejarah kopi priangan itu tersendiri. Sehingga muncul istilah miris, “di mana kopi tumbuh di situ ada rotan”. Satu kalimat yang menggambarkan begitu getirnya para petani kopi di Priangan ketika mereka dikuasai cengkraman Belanda. VOC yang menawarkan kesepakatan Koffie Stelsel, mereka juga yang melanggar perjanjiannya.

Sumber foto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *