Sejarah Kopi Priangan 5 – Protes Eduard Douwes Dekker

Membaca Sejarah Kopi Priangan Protes Eduard Douwes Dekker

Sejarah Kopi Priangan Bagian 5
Sejarah kopi di kawasan Priangan memang berliku-liku seiring bergantinya rezim yang berkuasa di Hindia-Belanda. Pergantian kekuasaan mengubah kebijakan dalam menangani tanaman kopi. Tahun-tahun keemasan kopi Priangan, memang dibangun pada masa penjajahan. Tanaman kopi di Priangan seperti sebongkah berlian yang harus terus dijaga kelestariannya. Karena menguntungkan pihak penjajah dari segi ekonomi.

Seiring tahun, dunia mulai melihat adanya ketidakberesan mengenai praktik Cultuur Stelsel (Sistem Tanam Paksa) di Pulau Jawa dan Sumatera. Sistem politik yang licik dan menguntungkan satu pihak ini pun akhirnya menuai protes. Bukan hanya dari kalangan pribumi saja namun dari orang-orang Belanda sendiri.

Membaca sejarah kopi Priangan tak bisa terlepas dari nama Eduard Douwes Dekker. Ia adalah seorang Asisten Residen Lebak yang menyuarakan protesnya terhadap Sistem Tanam Paksa. Dekker menjabat Asisten Residen Lebak di sebelah selatan Karesidenan Banten, tepatnya di Rangkasbitung pada Januari 1856. Ia menjumpai kenyataan pahit yang dialami oleh penduduk pribumi yang diperas tenaga maupun kekayaan alamnya.

Dengan berani, Dekker melakukan pengusutan terhadap pemerintahan bumiputra terutama Bupati Lebak Raden Adipati Karta Nata Negara. Para penguasa pribumi ini menggantungkan hidupnya pada hasil kerja rakyat bahkan tak jarang hewan ternak rakyat disita atau dibeli dengan harga sangat murah. Hidup mereka mewah di atas duka rakyat.

Dekker kemudian mengirimkan surat pengaduan dan permintaan pengusutan pada Residen C.P. Brest van Kempen. Residen mengadakan pemeriksaan di tempat terhadap para penguasa pribumi Lebak, Banten. Meski mengetahui kebenarannya, ia menolak untuk memberi sanksi ataupun mencopot jabatan mereka.

Kecewa terhadap Kempen, Dekker melaporkan temuannya pada Gubernur Jenderal A.J. Duymaer van Twist yang terkenal beraliran liberal. Tindakannya membakar emosi Kempen karena merasa dilangkahi sehingga mereka berseteru. Gubernur Jenderal menindaklanjuti pengaduan Dekker. Sayangnya, pengadilan dilaksanakan tidak secara adil. Banyak saksi menolak berbicara karena diancam pembunuhan. Lolos sudah penguasa pribumi dari hukuman.

Bukannya mendapat dukungan, Dekker harus menerima pil pahit akibat usahanya. Ia mengundurkan diri sebagai asisten residen dan dihukum secara sosial oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dekker dianggap menganggu stabilitas jalannya pemerintahan dan tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial.

Mengapa Dekker dianggap demikian? Sepertinya Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda trauma akibat Perang Jawa. Mereka lebih baik memberhetikan atau menyopot jabatan orang Belanda dari pada harus berseteru dengan pribumi. Akibatnya bisa fatal yaitu pemberontakan.

Atas keprihatinannya terhadap rakyat dan pengalamannya menjabat sebagai Asisten Residen Lebak, Dekker dengan berani menyampaikan kritik dan gagasannya dalam sebuah buku.  Yakni lewat buku berjudul Max Havelaar yang akan mengubah jalannya pemerintahan Belanda di Indonesia selamanya. Membaca sejarah kopi Priangan tak lengkap jika tak membaca novel Max Havelaar.

Dekker menulis dengan nama samaran Multatuli yang berarti ‘Aku sudah banyak menderita’. Buku tersebut bercerita tentang pengalamannya selama di Nusantara. Novel dengan gaya bahasa satir ini berhasil membuka mata publik Belanda dalam melihat praktik Cultuur Stelsel. Masyarakat Belanda mengganggap bahwa Sistem Tanam Paksa merupakan sistem saling menguntungkan antara pihak Belanda dan rakyat. Namun kenyataan sesungguhnya, mereka tidak tahu apa-apa.

Buku ini juga memberi angin segar pada kaum liberal Belanda untuk mengubah dan menekan jalannya pemerintah Belanda di Nusantara. Protes terjadi di mana-mana. Pemerintah Belanda akhirnya menerbitkan Undang-undang Agraria pada 1871 sekaligus menghapuskan Cultuur Stelsel.

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *