Sejarah Kopi Priangan 4 – Periode Cultuur Stelsel (Sistem Tanam Paksa)

Membaca Sejarah Kopi Priangan (4): Periode Cultuur Stelsel (Sistem Tanam Paksa)

Sejarah Kopi Priangan Bagian 4
Efek dari kopi Priangan berhasil menembus pasar kopi dunia adalah melonjaknya jumlah permintaan kopi dari Pulau Jawa. Merespon permintaan tersebut, Belanda meningkatkan produksi kopi Pulau Jawa secara besar-besaran. Belanda kala itu sudah berhasil menguasai pasar Eropa dengan mendirikan balai lelang kopi di Amsterdam.

Pada masa itu, Belanda tengah mengalami krisis keuangan yang disebabkan oleh Perang Jawa. Perang yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) itu merugikan Belanda secara materil maupun korban jiwa. Di sisi lain, perlawanan yang dipimpin Pangeran Diponegoro juga menelan nyawa penduduk pribumi hingga ratusan ribu jiwa. Sayangnya kemenangan berpihak pada Belanda dan menegaskan penguasaan Belanda di Pulau Jawa.

Perang Jawa menguras kas Belanda hingga kosong. Adalah Gubernur Jenderal Hindia-Belanda kala itu, Van den Bosch (1830-1835) yang meyakinkan pemerintah kolonial mengenai konsep Cultuur Stelsel (1830-1870). Van den Bosch melihat kopi sebagai tanaman ekspor yang menjanjikan keuntungan besar. Ia berambisi meningkatkan jumlah tanaman kopi hingga mencapai 50 juta pohon. Ide Cultuur Stelsel ini terinspirasi dari Preanger Stelsel masa VOC, ketika VOC bekerja sama dengan Bupati Priangan. Sejarah kopi Priangan pun memasuki era baru.

Cultuur Stelsel atau sistem tanam paksa berangkat dari asumsi bahwa desa-desa di Jawa berutang sewa tanah kepada pemerintah senilai 40% dari hasil panen utama. Van den Bosch mewajibkan setiap penduduk untuk menyisihkan seperlima tanahnya atau 20% untuk ditanam komoditi ekspor seperti kopi, tebu, dan nila. Dan bagi penduduk yang tidak memiliki tanah, wajib bekerja di tanah-tanah perkebunan Belanda selama minimal 75 hari.

Apabila ada keuntungan lebih dari tanaman ekspor ini, penduduk bisa menikmatinya. Sementara bila terjadi kerugian seperti terkena hama dan sebagainya, pemerintah yang menanggung. Pada kenyataannya, penduduk harus menanami kopi hampir seluruh wilayahnya. Belum lagi bila ada kerugian ditanggung sendiri.

Gubernur Jenderal Van den Bosch percaya bahwa peran dan posisi bupati di Priangan sangatlah penting bagi rakyat. Sehingga Van den Bosch mengembalikan posisi para Bupati Priangan. Ia juga mengeluarkan mandat kepada pegawai pemerintah untuk menghormati para bupati dan apabila tidak, akan dikenakan sangsi. Keputusan Van den Bosch ini berhasil menarik simpati para bupati sehingga bisa meningkatkan tanaman kopi.

Sejarah kopi priangan di masa Cultuur Stelsel seperti mengulang luka lama namun lebih mengerikan. Karena Cultuur Stelsel tidak hanya diberlakukan di Priangan namun diperluas ke seluruh Pulau Jawa dan Sumatra.

Perlu dicatat keberhasilan sistem tanam paksa efektif meningkatkan produksi kopi dari awal diberlakukannya. Pada tahun 1834 produksi tanaman kopi di Pulau Jawa sekitar 28.662 ton. 8 tahun kemudian pada tahun 1842 sekitar 64.201 ton tanaman kopi. Pada tahun 1840an, tercatat di Pulau Jawa tumbuh 330 juta pohon kopi (Elson, 1994).

Pada masa penerapan Cultuur Stelsel, beberapa bupati di Priangan kekayaannya bertambah pesat. Termasuk kekayaan Bupati Bandung kala itu, Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1874) sebagai bupati terkaya di Priangan. Beliau yang menerima persentase keuntungan sekitar ƒ800.000 setiap tahunnya.

Sistem Tanam Paksa bukan saja berhasil mengisi kas Belanda juga memberikan keuntungan besar. Keuntungan itu dipakai Belanda untuk membangun infrastruktur di Pulau Jawa dan tentunya membangun Negeri Belandanya sendiri. Masyarakat Belanda tidak tahu-menahu mengenai Sistem Tanam Paksa yang merugikan rakyat Nusantara. Dalam pikiran mereka, Cultuur Stelsel merupakan sistem yang saling menguntungkan antara rakyat Nusantara dan Belanda.

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *