Sejarah Kopi Priangan 1 – Awal Mula Kopi Ditanam di Priangan

Sejarah kopi priangan - sumber Pixabay

Sejarah Kopi Priangan Bagian 1
Walikota Amsterdam, Nicholas Witsen, pada tahun 1696 memberi mandat kepada Adrian Van Ommen yang saat itu sedang bertugas sebagai komandan pasukan Belanda di Malabar, India untuk membawa beberapa bibit kopi arabika ke Indonesia. Atas mandat dari Witsen inilah, bibit pertama kopi diboyong ke Nusantara. Benih kopi arabika tersebut ditanam di tanah milik Gubernur Jendral VOC di Kedawoeng, Batavia. Namun percobaan itu gagal terlaksana karena banjir.

Pihak Belanda tidak putus harapan, percobaan demi percobaan mereka lakukan. Pada tahun 1699, penanaman berikutnya dilakukan di kawasan kampung Melayu, Bidaracina, Palmerah, dll. Menurut catatan sejarah, awal mulanya kopi hanya ditanam di kawasan yang sangat rendah dari ketinggian laut. Yakni di pantai-pantai Batavia sampai kawasan Cirebon. Ternyata tanaman kopi arabika tidak bisa tumbuh dengan baik di kawasan rendah. Kemudian pihak Belanda mengalihkan tanaman kopi ke wilayah Priangan, dataran yang lebih tinggi.

Belanda yang memiliki obsesi menguasai pasar kopi Eropa melihat potensi besar pada kawasan Priangan yang tanahnya subur, bergunung-gunung, dan cuacanya cocok dengan karakter kopi arabika. Belanda pun mendirikan perkebunan kopi pertamanya di kawasan Priangan dengan cukup serius. Dari sinilah awal mula sejarah kopi Priangan dimulai. Sebuah kawasan perkebunan kopi nomor 2 yang paling tertua di dunia.

Willem van Outshoorn, Gubernur VOC di Batavia pada tahun 1706 dengan sigap mengirim contoh hasil kopi Priangan ke Amsterdam untuk diteliti dari segi cita rasa dan kualitasnya. Di luar dugaan, kopi Priangan mempunyai kualitas di atas rata-rata.

Setelah melihat potensi kopi di Priangan yang bagus, Van Outshoorn pada tahun 1707 mengumpulkan semua Bupati Priangan untuk bersama-sama membudidayakan kopi. Gubernur Jenderal VOC tersebut, menyuruh para Bupati di Priangan Barat dan Timur melakukan penanaman kopi di wilayah mereka masing-masing dengan iming-iming pembagian keuntungan. Belanda tahu bahwa rakyat sangat patuh pada pemimpinnya. Kesepatakan itu cukup legendaris dikenal sebagai Koffie Stelsel atau Preanger Stelsel. Inilah awal mula kopi dibudidayakan dan ditaman secara tersktruktur dan besar-besaran di kawasan Priangan. Kawasan Priangan Timur mendapatkan tanaman kopi dari kawasan Cirebon dan kawasan Priangan Barat memperoleh tanaman kopi dari Batavia.

Dalam kesepakatan awal Preanger Stelsel, posisi Bupati Priangan sangat menentukan sejauh mana keberhasilan produksi kopi yang mereka tanam di kawasan mereka masing-masing. Bupati bukan saja berperan sebagai pendorong rakyat menanam kopi. Para Bupati juga bertindak sebagai pengumpul hasil panen kopi untuk diserahkan ke VOC.

Untuk tiap pikul kopi yang diserahkan ke VOC, Bupati akan mendapatkan keuntungan sebesar 2,5 gulden. Sebuah imbalan yang cukup besar. Di masa awal memang jelas VOC dan para Bupati Priangan hanya menjalankan hubungan ekonomi. Walaupun setelahnya kesepakatan tersebut dilanggar oleh VOC.

Sejarah kopi Priangan mencatat jika seorang Bupati mampu menyerahkan biji-biji kopi cukup melimpah dan bagus, maka pihak VOC akan menambahkan pesangon sebagai imbalan jasa. Sebagai contohnya, Bupati Priangan yang menguasai daerah Cianjur yakni Aria Wiratanudar pernah menyerahkan biji kopi sebanyak 400 kg. Kerja kerasnya diganjar 50 gulden per pikul kopi. Jumlah tersebut termasuk banyak dibanding Bupati lain kala itu. Sehingga para Bupati mengerahkan segenap tenaga dan kharismanya untuk mendorong rakyatnya menanam kopi. Namun para Bupati ini tetap memperhitungkan kebutuhan atas tanaman lain seperti padi agar rakyatnya tidak kelaparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *