Sejarah Kopi Arabika di Indonesia 2 – Serangan Hama Karat Daun

Mengulik Sejarah Kopi Arabika di Indonesia Bagian 2 - Sumber Pixabay

Sejarah kopi Arabika di Indonesia Bagian 2
Kopi Arabika yang dibawa bangsa Eropa dari Yaman, memiliki dua macam jenis yaitu typica dan bourbon. Typica adalah varietas arabika dibawa ke Jawa (Indonesia) kemudian menyebar secara cepat ke bagian Asia Selatan dan sampai juga ke bagian Amerika Tengah. Bourbon lebih banyak disebarkan oleh Perancis dan dibawa ke Brazil dan wilayah Amerika Selatan lainnya.

Buku Coffee Plants of The World menjelaskan “Kopi arabika memiliki banyak varietas, galur dan klon. Kebanyakan jenis yang ada saat ini bersumber dari varietas typica dan bourbon yang dibawa dari Yaman. Typica memiliki ciri-ciri buah lebih besar, namun produktivitasnya lebih rendah. Sedangkan bourbon memiliki ciri-ciri daun yang lebih lebar, buah lebih membulat, dan batang yang tegak.”

Bagian pertama sejarah kopi Arabika di Indonesia menerangkan bahwa bangsa Belanda memegang andil besar dalam penyebaran arabika di Indonesia. Varietas kopi yang pertama dibawa oleh VOC tentu saja adalah typica. Setelah ditanam di Indonesia, Belanda berhasil menguasai perdagangan biji kopi di dunia dan mengakhiri kekuatan dominasi saudagar Arab memonopoli perdagangan kopi dunia.

Belanda memanfaatkan Indonesia sebagai negara jajahan menjadi basis produksi tanaman kopi Arabika. Sebetulnya budidaya arabika pernah gagal terjadi saat pertama kali dilakukan penanaman di Batavia. Namun pihak Belanda tidak menyerah dan kopi arabika disebarkan ke seluruh penjuru Priangan bekerja sama dengan para Bupati Priangan. Wilayah Priangan yang bergunung-gunung ternyata cocok untuk tanaman kopi Arabika. Lewat perjanjian Preanger Stelsel (perjanjian dagang Belanda dengan para Bupati Priangan) Belanda berhasil menjadi pemasok kopi terbesar di pasar dunia.

Kenapa arabika sangat diminati pasar kopi dunia? Itu karena kopi Arabika mempunyai kelebihan seperti aroma yang kuat, body-nya agak ringan sampai sedang, memliki rasa asam buah yang segar, dan kandungan kafeinnya lebih rendah dibanding kopi robusta.

Untuk memenuhi permintaan pasar kopi dunia, Belanda menyebarkan kopi Arabika ke pulau-pulau lain di Indonesia seperti pulau Sumatera. Karena perbedaan daerah tanam, varietas typica mengalami mutasi sehingga di Indonesia, banyak sekali varietas turunan arabica yang dibudidayakan dan ditanam. Setiap varietas memiliki proses tumbuh dan hasil panen yang berbeda, tergantung di mana lokasi kopi ditanam.

Kemunduran Kopi Arabika di Pulau Jawa
Sampai pertengahan abad 19, kopi Arabika dari Nusantara menjadi primadona di pasar dunia. Sayangnya pada tahun 1876 terdapat serangan hama karat daun, Hemileia vastatrix yang menyerang hampir seluruh perkebunan kopi di Pulau Jawa. Produksi kopi Arabika kian menurun. Usaha untuk menangani masalah tersebut dilakukan namun tidak membuahkan hasil.

Demi mempertahankan posisinya di kancah pasar kopi dunia, Belanda pun mendatangkan spesies Coffea liberica dari Liberika dan Coffea canephora (dikenal sebagai robusta) dari Kongo sebagai pengganti kopi Arabika. Keberadaan kopi Arabika di pulau Jawa pun terpinggirkan. Hingga pada akhir abad 20 kopi arabika di Pulau Jawa kembali hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *