Sejarah Kopi Arabika di Indonesia 1 – Dari Ethiopia Sampai Ke Indonesia

Mengulik Sejarah Kopi Arabika di Indonesia Bagian 1 - Sumber Foro Pixabay

Sejarah kopi Arabika di Indonesia Bagian 1
Alam Indonesia memang subur. Apa pun yang ditanam di Indonesia pasti akan tumbuh dan berbuah. Kesuburannya pun terkenal sampai ke mancanegara. Karena kekayaan alamnya inilah Indonesia pernah dijajah oleh bangsa-bangsa asing.

Dahulu kala Indonesia disebut Nusantara atau Hindia. Posisinya yang strategis membuat Bangsa Eropa berlomba-lomba menguasai Nusantara. Mulai dari Portugis, Belanda, Perancis, hingga Inggris. Awalnya, bangsa-bangsa ini mencari rempah-rempah ke Nusantara, dan ternyata kekayaan alam Indonesia lebih beragam dari yang diduga. Tanah Nusantara yang subur memiliki potensi besar untuk mengembangkan tanaman apa saja. Tak terkecuali tanaman kopi.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa terdapat beraneka ragam spesies tanaman kopi. Namun secara komersial hanya 2 spesies yang dikembangkan secara masif. Spesies kopi arabika dan kopi robusta. Sebagai pecinta kopi, tentu sudah wajib untuk mengetahui secara detail mengenai sejarah dua jenis kopi tersebut bisa masuk ke Indonesia. Pada artikel ini, Kopi Dewa akan fokus membahas sejarah kopi arabika di Indonesia. Salah satu spesies kopi yang memiliki banyak penggemar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dengan nama Latin Coffea arabica, saat ini kopi Arabika telah menjadi salah satu komoditas kopi yang lebih banyak dinikmati. Walaupun harganya lebih mahal ketimbang kopi robusta orang tetap mencari dan menggemari arabika. Hal ini terjadi karena jenis kopi arabika mempunyai rasa yang lebih nikmat proses penanamannya berisiko lebih tinggi.

Perjalanan Kopi Arabika Sampai Ke Nusantara
Kopi arabika sejatinya adalah jenis kopi yang pertama ditemukan dan diolah dengan alat-alat terbatas di masanya sehingga bisa dijadikan secangkir kopi yang nikmat. Kopi Arabika konon berasal dari kawasan Afrika yang bernama Abyssinia (Ethiopia). Dari daerah itulah, kopi arabika diboyong ke Yaman oleh bangsa Arab. Karena bangsa Arab tidak ingin kopi diproduksi oleh bangsa lain, penjualannya pun dikontrol dengan ketat. Pedagang Arab hanya menjual biji kopi yang sudah disangrai sehingga tidak bisa ditanam di daerah lain. Penyebaran bibit kopi hidup pun diawasi dengan ketat.

Pasar perdagangan kopi pun didominasi oleh bangsa Arab. Keuntungan yang menggiurkan dari penjualan kopi membuat bangsa-bangsa lain ingin juga berkontribusi di pasar kopi. Walaupun bangsa Arab berusaha melindungi peredaran bibit kopi, seseorang bernama Baba Budan berhasil menyelundupkan beberapa butir biji kopi ketika melaksanakan perjalanan haji. Bibit kopi tersebut ditanam Baba Budan di daerah Ceylon (Srilangka sekarang) dan akhirnya menyebar sampai ke Malabar, India.

Daerah Malabar akhirnya dikuasai oleh Belanda. Belanda pun menemukan perkebunan kopi tersebut dan mengambil bibitnya untuk diteliti. Atas perintah Wali Kota Amsterdam Nicholas Witsen, Komandan Pasukan Belanda (VOC), Adrian Van Ommen membawa tanaman kopi arabika ke Batavia pada tahun 1696. Bibit tersebut ditanam di tanah pribadi Gubernur Jendral VOC, Willem van Outhoorn, tepatnya di Kedawoeng. Ternyata tanah Nusantara sangat cocok untuk membudidayakan spesies kopi arabika. Bisa disebut, bahwa bangsa Belanda memegang andil besar dalam sejarah kopi arabika di Indonesia.

Tanaman Kopi Arabika, Pemberian Nama Dari Carl Linnaeus
Pada tahun 1753, nama Coffea arabica diberikan oleh ahli botani sekaligus Ilmuwan Swedia yang terkenal, yakni Carl Linnaeus. Linnaeus menyangka bahwa kopi arabika berasal dari Arab sehingga diberi nama arabika. Linnaeus menggolongkannya ke dalam keluarga Rubiaceae genus Coffea. Pemberian nama tersebut akhirnya terkenal dan dipakai sampai saat ini.

Menurut penelitian Linnaeus, tanaman kopi jenis arabika akan tumbuh secara baik jika ditanam pada kisaran ketinggian 700-1700 mdpl dengan suhu sekitar 16-20 °C. Penelitian lebih lanjut menerangkan banhwa kopi hanya bisa tumbuh di daerah dengan iklim tropis.

Kopi arabika juga harus memiliki kiat-kiat pengolahan yang rumit. Untuk bisa menghasilkan biji kopi arabika yang berkualitas, tenaman harus dirawat dan dibudidayakan dengan cara yang cukup detail. Karena menurut pakar kopi, tanaman kopi arabika sangat rentan mati karena implikasi penyakit karat daun yang bernama Hemileia vastatrix. Hama inilah yang kelak membawa kehancuran kopi Arabika di Nusantara.

Baca Bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *