Menikmati Kopi di Alam Kemerdekaan Indonesia

Menikmati Kopi di Alam Kemerdekaan Indonesia

Teguklah secangkir kopi bersama keluarga, para sahabat, dan berkarya bersama dalam alam kemerdekaan Indonesia.

Menikmati secangkir kopi tubruk pada masa prakemerdekaan tentulah sebuah kemewahan. Saat itu hanya orang-orang istimewa seperti kaum priyayi yang dapat menyesap kenikmatan kopi. Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1696 tanaman kopi masuk ke tubuh ibu pertiwi untuk tidak terpisahkan lagi hingga kini. Dari Pulau Jawa, Kompeni menyebarkannya ke seluruh penjuru Nusantara. Produksi besar-besaran tanaman kopi berbuah manis bagi mereka, Belanda dapat menguasai pasar kopi Eropa. Sementara untuk rakyat Indonesia sendiri meneguk pil pahit.

Tibalah masa kemerdekaan, nama Indonesia bergaung di kancah internasional. Terkadang saya membayangkan bahwa para pejuang dan pemikir Indonesia bermalam-malam tidak tidur demi mengatur strategi pergerakan. Tentulah kopi hadir saat-saat seperti itu menemani pembicaraan-pembicaraan panjang tentang cita-cinta luhur bangsa. Pastilah kopi menyertai diskusi dan debat di antara para founding father. Kita mengenal Soekarno, Mohammad Hatta, Soepomo, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, Sutan Sjahrir, dan masih banyak lagi yang tergabung dalam 68 tokoh Bapak Bangsa.

Belum lagi para perempuan pejuang katakanlah Cut Nyak Dien, R. A. Kartini, R. Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, R. Rasuna Said, dan lain sebagainya. Mereka yang hadir dalam setiap generasi itu hidup saat tanaman kopi telah menjejak Nusantara.

Imajinasi saya bermain membayangkan para pejuang meracik kopi secara tradisional sebagai minuman penghangat, menajamkan pikiran, dan membuat mata tetap terbuka. Para perempuan bergegas menyajikan kopi ketika rapat-rapat sembunyi di berbagai kantung pergerakan di seluruh Nusantara. Kopi bisa jadi alat pemersatu bangsa.

Barangkali para pejuang itu tak mengenal racikan kopi rumit seperti sekarang. Barangkali hanya kopi tubruk yang mereka cecap. Kopi sederhana yang legit dan nikmat sebab mereka ambil dari kebun sendiri. Masa-masa itu tak akan ada perdebatan mana kopi yang lebih unggul, seperti apa cara meracik dan memakai alat seduh apa yang menghasilkan minuman kopi paling lezat. Yang terpenting adalah fungsi kopi itu sendiri.

Jauh setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, masyarakat masih mengolah kopi secara tradisional. Mulailah kita mengenal kopi sachet yang bisa didapat di setiap warung. Kopi menjadi alat komunikasi saat berkumpul bersama. Kenikmatan kopi terletak pada kebersamaan.

Memasuki milenium, masyarakat Indonesia mulai mengenal lebih jauh tentang kopi. Edukasi cara budidaya yang baik, mengolah kopi sampai biji hijau, dan bagaimana menyajikan kopi yang beragam itu pada pelanggan. Sebelum manual brew populer, masyarakat lebih dulu terbiasa dengan espresso based. Itu pun di kalanga tertentu.

Hari ini kita bisa menyaksikan gegap gempita dunia kopi dengan berbagai permasalahan dan solusi. Orang-orang melek terhadap tanaman kopi, cara pengolahan yang terus diperbaharui agar menghasilkan biji-biji berkualitas tinggi, dan serunya eksperimen di meja bar. Tentunya ini berita yang menggembirakan. Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia dipandang dari berbagai sisi. Barista-barista anak negeri berkompetisi di kancah internasional. Tak kalah penting, tanaman-tanaman kopi Indonesia pun dilombakan dan mendapat berbagai penghargaan.

Seperti dua sisi mata uang, kemajuan dunia kopi Indonesia yang begitu dinamis ini tidak hanya berbuah manis. Menikmati kopi di alam kemerdekaan Indonesia tak lagi terasa sederhana bagi saya. Betapa selalu ada perdebatan tentang kopi yang membuat minuman itu terasa pahit di lidah. Padahal kopi pahit dulu merupakan sebuah keniscayaan dan kenikmatan. Perdebatan-perdebatan itu baik. Dinamika dunia kopi yang jatuh bangun mendewasakan masyarakat dan pegiat kopi. Namun kadang saya tidak betah berlama-lama dalam perdebatan, pro dan kontra meruncing pada saling menjatuhkan. Menyitir ucapan Soekarno:

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Jangan sampai apa yang diucapkan Soekarno menjadi kenyataan. Bukankah para petani Nusantara punya cita-cita sederhana, sangat sederhana: meminum kopi bersama. Menikmati kopi di alam kemerdekaan Indonesia akan terasa nikmat ketika kita kembali menyadari bahwa kopi adalah salah satu alat pemersatu bangsa bukan pemecah belah. 73 tahun Indonesia merdeka cukuplah mendewasakan kita, menjadikan kopi sebagai alat kolaborasi. Itulah cinta kita sebenar-benarnya.

Evi Sri Rezeki

Penulis novel dan blogger yang harus menulis ditemani kopi.

One Ping

  1. Pingback: 3 Blend Espresso Ini Bikin Acara Ngopi Di Rumah Atau Kantor Makin Seru!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *