Khazanah Kekayaan Rasa Kopi Lewat Manual Brew dan Espresso Based

Khazanah Kekayaan Rasa Kopi Lewat Manual Brew dan Espresso Based

Kapankah pertama kali Anda minum kopi dan kopi seperti apa? Pertanyaan itu menggema di benak saya. Mengajak saya bertualang ke negeri ingatan. Saya tiba pada masa kecil ketika saya belum mengenal bangku sekolah. Ayah saya pecandu kopi. Tak ada satu hari pun beliau lewatkan tanpa minum kopi. Dalam satu hari, beliau bisa minum kopi 6 – 8 gelas besar. Lama-lama saya penasaran kemudian ikut meminumnya. Ternyata rasanya pahit manis. Jadi saya lebih suka menambahkan susu agar rasa kopinya tidak terlalu kuat. Itulah kopi pertama yang saya kenal, bukan hasil manual brew dan espresso based.

Penyajian kopi kedua yang saya kenal adalah kopi tubruk, tentu saja dicampur gula. Disusul vanilla latte, salah satu varian espresso based. Penyajian kopi ketiga ini bikin saya tergila-gila. Setiap kali saya datang ke kafe, minuman itulah yang saya pesan. Kadang-kadang café latte.

Sejujurnya, meski suka minum kopi tubruk, saya tidak tahu bahwa itu salah satu metode manual brew. Dan saya baru mengetahuinya justru empat tahun ke belakang ketika saya tanpa sengaja tercebur ke dunia kopi untuk mencari bahan penulisan novel.

Bagi saya, dunia sastra dan dunia kopi sama-sama ajaib. Jika sastra hadir untuk melembutkan hati, menyentuh kesadaran manusia, maka kopi hadir untuk melengkapi komunikasi antar manusia. Sastra dan kopi saling mengisi.

Kebutuhan riset novel saya tentang kopi membawa saya pada berbagai metode penyeduhannya. Yang pertama-tama saya pelajari adalah manual brew. Ternyata sulit sekali menyajikan kopi dengan metode manual brew. Banyak parameter yang saya harus ikuti. Saya seperti bergelut dengan matematika dan kimia. Dua pelajaran yang sungguh mati saya tidak suka. Pada akhirnya saya harus berdamai dengan keduanya.

Mempelajari penyajian espresso tak kalah menantang. Meski terlihat lebih praktis karena menggunakan mesin yang bisa diset, nyatanya tidak sesederhana itu. Apalagi ketika membuat latte art yang bikin saya ingin menangis karena terus-menerus gagal.

Petualangan saya mempelajari metode seduh mengantarkan saya pada khazanah kekayaan rasa kopi lewat manual brew dan espresso based. Keduanya memiliki kelebihan dan ciri khas masing-masing. Tak heran, keduanya mempunyai penggemar fanatik sendiri-sendiri.

Metode manual brew bisa menghasilkan rasa yang kaya dari hanya satu jenis biji kopi. Tergantung alat seduh dan tangan si pembuatnya. Faktor terakhir adalah kepekaan lidah manusia. Metode manual brew bagaikan puisi yang bisa ditafsir berbeda-beda oleh setiap manusia.

Sedangkan metode pembuatan espresso bagi saya mengutamakan konsistensi. Bagaimana dari satu jenis biji kopi menjadi ekstraksi kopi yang dinamakan espresso tersaji bagaikan madu. Dan rasa satu cangkir dengan cangkir lain begitu persis. Mengutip buku Onward: Bagaimana Starbucks Bertahan Hidup dan Bangkit Kembali tanpa Kehilangan Jiwanya karya Howard Schultz dan Joanne Gordon:

… Penyeduhan yang sempurna akan tampak seperti madu yang ditumpahkan dari sendok. Kental dengan rasa karamel yang manis. –hal 7—

Bagi saya, letak menariknya espresso berada pada titik ia menjadi bahan dasar untuk pembuatan varian minuman lain seperti café latte dan cappuccino. Hasil kolaborasi antara ekstraksi kopi, susu, sirup, dan lain sebagainya. Minuman espresso based bagaikan novel yang kaya akan elemen-elemen.

Intinya bagi saya hasil metode manual brew adalah usaha menarik potensi dan karakter alami sebuah kopi, hasil metode pembuatan espresso based adalah usaha mengolaborasikan kopi. Khazanah kekayaan rasa kopi lewat manual brew dan espresso based ibarat seorang manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Ibarat manusia dengan kecantikan jiwa dalam dan luar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *