Membaca Makna Di Balik Sejarah Hari Tani Nasional

Membaca Makna Di Balik Sejarah Hari Tani Nasional

Indonesia merupakan negara agraris dengan hamparan tanah pertanian yang luas dari Sabang hingga Merauke. Maka tidaklah heran jika di negara ini ada hari spesial untuk para pahlawan pertanian yang diperingati setiap tanggal 24 September, yaitu Hari Tani Nasional atau National Farmer’s Day.

Hari Tani Nasional ini memang kurang begitu dikenal jika dibandingkan dengan Hari Kartini atau Hari Pahlawan padahal sudah diperingati sejak tahun 1962. Meski begitu, hari istimewa ini layak untuk dirayakan dan diperingati oleh para petani di seluruh Indonesia. Dan juga kita yang mendapatkan manfaat dari pertanian.

Petani dan Hari Tani bisa diibaratkan petani dengan cangkulnya, sebab petani merasa dihargai dan berwibawa ketika ia masih mampu mengangkat cangkul dan mengolah lahan pertaniannya. Begitu pula dengan adanya Hari Tani menjadi hari penanda bahwa petani adalah pahlawan untuk bangsa ini. Sebuah penghormatan bagi mereka yang masih bertahan dan terus memperjuangkan tanah subur Nusantara tak tersia-sia. Dari hasil sawah dan kebun mereka, bangsa ini bisa tumbuh dan terus maju. Keringat mereka adalah pupuk penyubur agar kita tetap menjadi Bangsa yang mandiri.

Jika kita mau membaca dan menoleh sejarah Indonesia, niscaya Abdi Kopi akan paham bahwa petani adalah profesi tertua setelah peluat atau nelayan. Berkat para petani yang mampu bersinergi dengan alam kaya nan subur itulah Nusantara bergaung ke seluruh penjuru dunia. Berdondong-bondong Bangsa besar mendatangi dan memperebutkan Nusantara sebagai negeri jajahan. Seperti dua sisi mata uang, profesi petani penuh senyum dan luka menganga. Rasanya tidak berlebihan jika negara kita memberi penghargaan lebih terhadap petani.

Sejarah penetapan Hari Tani Nasional ini sendiri memiliki banyak makna yang perlu menjadi bahan perenungan untuk generasi masa kini. Penetapan Hari Tani Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Soekarno No. 169/1963 Tanggal 26 Agustus 1963 yang menjadi penanda betapa pentingnya peran serta posisi petani sebagai entitas bangsa Indonesia.

Meski baru disahkan tahun 1962, sebenarnya peringatan Hari Tani Nasional sudah dimulai sejak 24 September 1960, tepatnya saat Presiden Soekarno menetapkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria atau UUPA 1960.

Undang-Undang Pokok Agraria ini lahir setelah melewati masa yang cukup panjang, yaitu selama 12 tahun. Dimulai dari tahun 1948, dimana ibukota negara saat itu bertempat di Yogyakarta dan akhirnya dibentuk Panitia Agraria Yogya.

Satu tahun setelahnya, kedaulatan bangsa Indonesia diakui dan disusul adanya Konferensi Meja Bundar pada tanggal 27 Desember 1949, saat itu ibukota Indonesia kembali ke Jakarta. Akhirnya tahun 1951, nama Panitia Agraria Yogya berganti menjadi Panitia Agraria Jakarta.

Seiring perkembangan zaman dan di tengah riuh rendah politik di masa itu, Panitia Agraria Jakarta sempat mengalami kemandegan hingga akhirnya kembali diteruskan oleh Panitia Soewahjo (Tahun 1955), Panitia Negera Urusan Agraria (Tahun 1956), Panitia Rancangan Soenarjo (Tahun 1958), dan Panitia Rancangan Sadjarwo (Tahun 1960). Selanjutnya rancangan Tahun 1960 tersebut digodok Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pimpinan Haji Zainul Arifin.

Pada tanggal 12 September 1960, Menteri Agraria Mr. Sardjarwo berpidato dalam sidang DPR-GR. Ia menyatakan bahwa perjuangan perombakan hukum agraria nasional erat kaitannya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk bisa lepas dari cengkeraman, pengaruh, serta sisa-sisa penjajahan bangsa kolonial. Khususnya perjuangan rakyat tani agar bisa bebas dari kekangan sistem feodal atas tanah dan pemerasan yang dilakukan oleh kaum modal asing. Undang-Undang Pokok Agraria ini akhirnya diterima dan disahkan oleh DPR-GR pada tanggal 24 September 1960.

Adanya UUPA menjadi titik awal yang penting bagi nasib petani Indonesia, karena UUPA ini juga bermakna sebagai penjungkirbalikan hukum agraria kolonial dan mulai digunakannya hukum agraria nasional yang bersendikan realitas kehidupan rakyat Indonesia, khususnya petani. Di masa itu, ditetapkannya Undang-Undang Agraria bertujuan agar kesejahteraan petani nasional bisa meningkat dan juga untuk menghentikan sistem politik hukum Agraria tinggalan kolonialisme.

Dalam kebijakan UUPA tersebut diatur mengenai hak-hak serta kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, serta hak atas sumber-sumber agraria untuk bisa dikelola serta dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran petani dan bangsa.

Kebijakan Presiden Soekarno menetapkan Hari Tani Nasional setiap 24 September adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap semua jasa yang dilakukan oleh para petani Indonesia. Di masa sekarang, keberadaan petani memang kerap terlupakan, apalagi saat ini banyak hasil-hasil pertanian yang diimpor dari luar negeri. Ditambah lagi, Indonesia saat ini bisa dikatakan darurat petani sebab generasi muda banyak yang tidak mau menjadi petani dan memilih untuk memulai pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Akan tetapi sebagaian anak muda sudah kembali melirik profesi petani. Sebuah kesadaran yang semoga terus menjadi virus, menyebar dan membahagiakan.

Sebenarnya ada harapan besar di setiap perayaan Hari Tani Nasional agar ke depannya para petani bisa lebih sejahtera dan menikmati hasil panen yang menggembirakan. Dan semoga kelak banyak generasi muda yang mau datang ke lahan pertanian untuk menebar benih-benih kebaikan untuk kemajuan pertanian di masa depan. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mengenal sawah dan lahan pertanian hanya dari lukisan. Jangan sampai anak cucu kita mengonsumsi sayur-mayur, buah-buahan, dan padi dari ladang orang lain.

*Sumber gambar Pixabay – Sasint

Evi Sri Rezeki

Penulis novel dan blogger yang harus menulis ditemani kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *