Kopi dan Gula, Sahabat atau Musuh?

coffee sugar

Saya mengenal dan jatuh cinta pada kopi sejak kecil. Wangi semerbak dan perpaduan rasa pahit manis sejak dulu selalu menarik hati saya.

Namun seiring waktu, saya pun berkenalan dengan kopi tanpa gula. Awalnya aneh, lidah yang terbiasa dengan rasa manis diguyur dengan rasa pahit. Tak jarang akhirnya saya menyerah dan menambahkan gula. Tapi kelamaan lidah ini menjadi biasa, ketagihan malah. Saya pun menjadi maniak kopi tanpa gula. Rekan dan sahabat saya racuni dengan nikmatnya kopi pahit. Banyak yang tertarik, tapi lebih banyak yang menolak.

Sampai tak sengaja saya membaca ungkapan lama dalam bahasa Italia “Quando il cucchiaio sta a piedi, c’e abbastanza zucchero nel caffè“. Maknanya kurang lebih “jika sendok bisa berdiri tegak, sudah ada cukup gula di dalam cangkir kopi”. Saya pun bingung. Bukannya di luar negeri dari dulu minum kopi tanpa gula? Bukannya espresso yang memang berasal dari Itali seharusnya tidak diberi gula?

Ternyata pemahaman saya selama ini salah. Orang Italia adalah pecinta makanan dan minuman manis, termasuk kopinya. Dulu saya belajar menikmati espresso tanpa gula sampai mengernyit karena pahit. Eh, di negara asalnya segelas espresso mungil bisa ditambah bersendok-sendok gula supaya jadi manis. Terus mana dong yang benar?

Melihat sejarah di akhir abad 18, gula dan kopi sama-sama dibawa oleh pedagang Muslim dari Arab masuk ke Eropa. Kopi adalah komoditas dagang berharga tinggi dan gula adalah benda mewah lambang kemakmuran. Siapakah orang yang paling kaya? Tentunya para bangsawan yang bisa menyeduh kopi manis dengan banyak gula. Indonesia kena “getah”nya dengan cultuurstelsel yang mewajibkan petani menanam kopi dan gula.

Maju sedikit ke awal abad 19, kopi bukan lagi milik kaum berada. Konsumsi kopi mulai meningkat menjadi minuman yang paling banyak dikonsumsi selain teh dan cokelat. Namun industri kopi tidak bisa memenuhi permintaan pasar sehingga lebih banyak beredar kopi murah berkualitas rendah. Rasanya? Katanya sih tidak enak (saya belum lahir di zaman itu). Yang jelas, manisnya gula dipakai untuk menyamarkan rasa tidak enak dari kopi. Kemajuan teknologi juga menciptakan pemanis buatan selain gula yang harganya murah dan bisa diproduksi massal. Perpaduan kopi dan gula ini melahirkan kopi instan demi memenuhi kuota pasar. Mungkin ini adalah titik terendah pada perkembangan minuman kopi.

Saat ini, kesadaran akan kesehatan dan dampak buruk gula membuat orang mengurangi konsumsi gula termasuk pada kopi. Muncul pula trend menikmati rasa asli pada makanan dan minuman. Kopi pun mulai diperlakukan “lebih hormat”. Coffee enthusiast mulai berburu kopi berkualitas agar dapat menikmati kopi tanpa gula. Kedudukan kopi mulai kembali sebagai mahakarya kuliner yang patut diapresiasi. Bukan lagi sebagai komoditi.

Melihat dari hal tersebut, tentunya kita bisa menilai sendiri. Berada di titik manakah kita sebagai peminum kopi? Apakah kita termasuk golongan priyayi yang menyeduh kopi manis sebagai lambang status sosial? Atau terjebak di masa lalu yang mencampur gula untuk menyembunyikan kualitas kopi? Atau Anda adalah penikmat kopi yang mencintai kopi apa adanya, sudah siap dengan rasa pahitnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *