5 Faktor yang Membuat Kedai Kopi Menjadi Tempat Nongkrong Asyik!

5 Faktor yang Membuat Kedai Kopi Menjadi Tempat Nongkrong Asyik!

Musik mengalun lembut ketika saya masuk ke sebuah kedai kopi atau warung kopi. Papan menu yang tergantung memerlihatkan sajian varian minuman yang didominasi kopi dan berbagai sajian makanan. Seorang Barista menyapa saya ramah, menanyakan apa minuman dan makanan yang ingin saya cicipi. Setelah memesan, saya akan berkeliling mencari tempat duduk nyaman di mana saya bisa berlama-lama. Suasana seperti itulah yang membuat saya menasbihkan kedai kopi sebagai tempat nongkrong asyik paripurna.

Meski menikmati kopi bisa di mana saja, termasuk di rumah, saya selalu menyempatkan diri dalam sebulan untuk nongkrong di kedai kopi. Ada nuansa berbeda yang tidak bisa saya dapatkan di mana pun.  Kalau saya boleh jujur, memang tidak banyak kedai yang membuat saya selalu datang lagi. Kebanyakan hanya didorong rasa penasaran saja. Ada 5 faktor yang membuat kedai kopi menjadi tempat nongkrong asyik.

Pertama, pelayanan. Barista dan pelayan yang ramah adalah kunci penting kehidupan sebuah kedai kopi. Anda tentu suka bila barista dan pelayan yang menebar senyum, sabar meski Anda sedang rewel, dan sesekali berbagi pengalaman maupun ilmu. Dunia kopi yang sedang digandrungi akhir-akhir ini menjadikan magnet bagi kedai kopi untuk mendatangkan konsumen. Tak jarang, orang-orang yang datang untuk belajar menyeduh kopi atau ingin mendapat pengalaman membuat latte art. Barista menjadi sasaran empuk orang-orang yang haus pengetahuan dan pengalaman seperti ini.

Kedua, sajian minuman dan makanan yang lezat. Saya tidak mungkin membuat espresso based di rumah. Kalau saya ingin cappuccino, saya pasti datang ke coffee shop. Atau ingin menyicip berbagai varian single origin yang jumlahnya bisa ribuan jenis itu. Saya tidak perlu membelinya satu per satu untuk membuatnya di rumah.

Begitupun dengan makanan. Kedai-kedai kopi biasanya menyajikan camilan yang cocok dengan kopi seperti kue, es krim, atau waffle. Belum lagi makanan ala western, asia, atau Eropa. Daripada repot-repot masak, lebih praktis dan ekonomis membelinya di kedai kopi. Dan saat lidah saya cocok dengan sajian minuman dan makanannya, saya pasti kembali ke sana.

Ketiga, furnitur dan dekorasi. Betapa bahagianya bila saya menemukan kedai kopi yang furniturnya nyaman. Seperti sofa yang memiliki sandaran atau bean bag—yang sedang hits itu! Dengan pencahayaan yang remang atau terang, ramah mata untuk menulis. Biasanya saya membawa alat perang berupa laptop untuk bekerja. Bila sedang hangout bersama teman-teman, saya lebih suka yang jarak antar tempat duduknya pas sehingga orang-orang di sebelahnya tidak bisa menguping. Terutama ketika pembicaraannya intens dan sensitif.

Dekorasi cantik memanggil naluri siapa saja untuk berfoto dan sadar tidak sadar ikut mempromosikan warung kopi ketika memosting di media sosial. Dekorasi ini tentu tidak perlu mewah namun berkarakter. Membuat saya ingat kedai kopi tersebut dari ribuan kedai lain.

Pemandangan yang menghadap gunung, ada city light di malam hari, lampu-lampu kecil mengantung di antara pepohonan juga membuat betah. Namun tidak semua kedai kopi bisa mendapat lokasi seperti itu. Jadi minimal kedai kopi harus berkarakter dan berkonsep.

Keempat, harga. Ya, tentu saja harga sangat berpengaruh. Maksudnya adalah harga setara dengan kualitas sajian makanan dan minumannya. Walaupun harga yang terjangkau lebih saya sukai.

Kelima, tempat bersosialisasi. Utamanya kedai atau warung kopi adalah tempat bersosialisasi, berjejaring, dan berkomunitas. Selalu ada kejadian dan orang-orang menarik yang saya temui.

Dunia kedai kopi penuh dinamika. Setiap harinya ada saja kedai atau warung kopi yang baru buka atau malah tutup. Ada yang terus bertahan puluhan bahkan ratusan tahun namun ada juga yang seumur jagung. Setiap mendengar satu kedai tutup, saya merasa miris. Kedai kopi persis lini bisnis lain mesti siap berinovasi. Rasanya tak berlebihan bila para pemilik kedai belajar pada pendahulunya seperti Warung Tinggi dan Starbucks.

Sebetulnya masih banyak faktor yang membuat saya betah di kedai kopi seperti ada fasilitas WiFi, kebersihan toilet, pilihan pembayaran tunai dan debit, dan lain-lain. Nah, apa sih yang membuat Anda betah nongkrong di kedai atau warung kopi?

Evi Sri Rezeki

Penulis novel dan blogger yang harus menulis ditemani kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *