Jadi Petani Kopi Sehari, Berani?

Jadi Petani Kopi Sehari, Berani?

Geliat dunia kopi beberapa tahun ini di Indonesia kian gemilang. Berbondong-bondong orang-orang dari berbagai generasi mempelajari kopi. Dari mulai cara memproses biji kopi pasca panen, menyangrai kopi, sampai menyajikan kopi. Barista, roaster, dan Q atau R Grader menjadi profesi idaman para anak muda. Berbagai kalangan berlomba-lomba membuka warung atau kedai kopi. Sekolah-sekolah kopi didirikan. Namun apakah profesi petani kopi kemudian dilirik anak muda juga? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan bercerita pada Anda semua.

Dua tahun ke belakang, beberapa kali saya mengunjungi perkebunan kopi di Jawa Barat terutama yang berlokasi di Bandung, Pangalengan, dan Bogor. Dari perjalanan itu pula saya mendapat pengetahuan bahwa ada yang dinamakan petani kopi dan ada yang disebut buruh tani kopi. Apa bedanya? Petani kopi adalah mereka yang memiliki lahan dan modal. Terlepas dari apakah lahannya sewa atau hak milik. Kebanyakan memang perkebunan kopi itu berdiri di atas tanah milik pemerintah. Lahan adat di Jawa Barat sudah sangat langka sekali. Lahan milik lebih banyak dipakai untuk permukiman.

Para petani kopi menyewa lahan dengan sistem bagi hasil yang jumlahnya tergantung negosiasi. Mereka dinaungi oleh koperasi dan kelompok tani. Fungsi koperasi adalah untuk membantu para petani dalam hal permodalan, legalitas, edukasi, stabilitas harga, dan penyaluran subsidi dari pemerintah. Nah, untuk kelompok tani sendiri fungsinya lebih bersifat praktis. Dalam sebuah kelompok terdiri dari beberapa petani dan mereka sendiri pula yang membagi lahan sesuai dengan kemampuan. Apabila ada masalah seperti hama menyerang, para petani kopi saling membantu menyelesaikannya. Kelompok tani pun kadang berfungsi sebagai jembatan untuk menjual biji kopi kepada tengkulak atau pihak-pihak yang berminat membeli biji kopi.

Sedangkan buruh tani kopi sendiri adalah mereka yang menggarap dan memelihara pohon kopi yang bukan lahan milik mereka, atau menjadi pemetik kopi pada musim panen. Sebagai buruh tani kopi yang menggarap dan memelihara pohon kopi, mereka dibayar harian. Jumlah pekerja sangat tergantung dengan luas lahan.

Apa saja yang dikerjakan oleh buruh tani kopi? Wilayah kerja mereka cukup luas seperti membabat rumput yang mengganggu pohon kopi, memotong pucuk pohon kopi yang terlalu tinggi, memetik kopi saat panen, memupuki tanaman kopi, dan lain-lain. Buruh tani kopi biasanya meningkat saat musim panen.

Sebetulnya bagi petani kopi yang lahannya tidak seberapa luas, mereka tidak membutuhkan bantuan para buruh tani. Mereka mengerjakannya sendiri dari A sampai Z. Bahkan hingga proses pasca panen.

Menurut beberapa petani kopi yang saya temui, tanaman kopi termasuk tanaman yang tidak rewel. Mereka biasanya pergi ke kebun pada pagi hingga siang hari. Sehingga siang sampai malam mereka bisa berkumpul bersama keluarga.

Saya memerhatikan petani kopi didominasi oleh kaum tua baik itu lelaki maupun perempuan. Iseng-iseng saya bertanya pada petani kopi yang saya temui, mengapa kok sedikit anak mudanya? Mereka menjawab, karena anak muda lebih senang kerja di kota. Mendengar itu, saya hanya mengangguk-angguk saja. Beberapa petani juga memang berharap agar anaknya tidak menjadi petani, namun lebih banyak yang menginginkan adanya penerus.

Perjalanan-perjalanan tersebut membuat saya merenung, bagaimanakah agar profesi petani kopi ini lebih disukai anak muda? Saya sendiri tidak bisa menjadi petani kopi. Mengapa saya tekankan ‘anak muda’ tidak generasi sebelumnya? Karena dunia kopi khususnya di bagian perkebunan membutuhkan regenerasi. Yang siap berinovasi di dalam dunia serba cepat ini. Barangkali yang saya tulis ini merupakan kesimpulan terburu-buru dan agak sembrono, tidak didasari oleh catatan statistik yang mumpuni. Hanya berdasarkan secuil pengalaman berjalan-jalan ke beberapa perkebunan kopi di Jawa Barat.

Sudah banyak cerita anak muda yang mau menjadi petani kopi. Beberapa teman saya seperti di Bandung, di Gambung, dan di Padang merupakan anak muda yang mau turun menjadi petani kopi. Mereka tidak hanya menjadi petani, mereka juga mengedukasi petani lainnya. Membuat gerakan yang akhirnya memakmurkan petani itu sendiri. Virus-virus seperti ini harus terus ditularkan hingga merebak dan mendarah daging.

Bila anak muda tergerak menjadi petani tidak hanya petani kopi, maka urbanisasi akan berkurang. Daerah-daerah akan berkembang. Potensi alam dan wisata ikut terdongkrak.

Tak kenal maka tak sayang, pepatah tua mengatakan. Maka pengenalan profesi petani kopi menjadi sangat penting. Salah satu jalannya adalah dengan agrowisata perkebunan kopi. Di Jawa Barat, agrowisata ini sudah mulai banyak ditawarkan, baik oleh sekolah kopi, kedai kopi, maupun oleh koperasi. Kegiatan-kegiatan semacam ini akan memanggil jiwa anak muda untuk mau jadi petani. Minimal lebih menghargai profesi petani.

Bila Anda ingin tahu lebih dalam mengenai profesi petani, sesekali datanglah ke kebun kopi atau ikutlah agrowisata. Jadi petani kopi sehari, berani?

Evi Sri Rezeki

Penulis novel dan blogger yang harus menulis ditemani kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *