Cerita di Balik Secangkir Cappuccino - Sumber Pixabay

Cerita di Balik Secangkir Cappuccino

Cerita di Balik Secangkir Cappuccino
Cappuccino adalah minuman varian espresso based yang paling banyak digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga para manula. Kenikmatan yang dihidangkan secangkir cappuccino akan membuat kita rileks dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Namun tahukah kamu kalau di negara asalnya, Italia, cappuccino hanya dihidangkan tidak lebih dari jam makan siang. Bahkan awalnya dulu, kedai kopi di sana hanya menyajikan cappuccino di pagi hari saja sebagai menu sarapan. Hal ini terjadi karena menurut mereka kandungan susu pada cappuccino mempunyai kalori yang cukup untuk menggantikan sarapan berat sebelum menjalankan aktivitas pagi hari. Jadi di Italia, tidak akan ditemukan kedai kopi yang menjual cappuccino di atas jam makan siang, apalagi sore atau malam hari. Berbeda dengan di Indonesia atau negara lain, tak melihat waktu, kita dapat menikmati cappuccino nikmat ini.

Lalu apakah arti kata cappuccino itu? Tidak seperti caffe latte yang mempunyai arti kopi susu, cappuccino tidak memiliki arti atau makna dalam bahasa Italia. Lantas bagaimanakah asal-usul nama cappuccino itu?

Tidak ada sejarah pasti yang tentang cerita di balik secangkir cappuccino. Namun terdapat beberapa literasi yang menunjukkan asal muasal nama cappuccino. Di balik rasanya yang nikmat, cappuccino pun menyimpan sejarah yang panjang. Tingkatan komposisi dalam secangkir cappuccino mewakili warna dari jubah yang dipakai oleh para biarawan capuchin kuno. Biarawan-biarawan ini memakai jubah serta kerudung berwarna coklat dan kepala mereka tercukur botak. Jika dilihat dari atas atau dari kejauhan, mereka akan nampak seperti komposisi warna pada sebuah cappuccino.

Kisah biarawan capuchin ini diyakini terjadi pada tahun 1520. Jubah coklat yang mereka kenakan aslinya berasal dari biarawan Benedictine Camaldolese. Para biarawan inilah yang menyelamatkan biarawan capuchin dari serangan yang dilakukan oleh kelompok mereka sendiri. Untuk menghormati jasa-jasa biarawan Benedictine inilah, para biarawan capuchin ini mengenakan jubah kehormatan mereka. Begitulah sekilas cerita di balik secangkir cappuccino.

Jika dilihat dari komposisinya, cappuccino ini hampir serupa dengan caffe latte. Sama-sama terdiri dari espresso, susu yang sudah di-steam, dan foam susu. Perbedaan yang cukup menonjol terletak pada dua hal yaitu pada takaran susu dan tebalnya foam.

Pada cappuccino takaran espresso, susu, dan buih susu mempunyai komposisi yang seimbang. Cappuccino terdiri dari 1 bagian espresso, 1 bagian susu (steamed milk), dan 1 bagian buih susu. Hal ini berbeda dengan caffe latte yang porsi takaran susunya lebih banyak. Foam susu pada cappuccino pun lebih tebal, sekitar 2 cm. Dengan begitu rasa caffe latte cenderung lebih milky sedangkan pada cappuccino lebih creamy dengan rasa kopi yang lebih kuat.

Seperti pada caffe latte, cappuccino panas pun sering dihiasi dengan latte art. Dengan begitu penampilannya jadi lebih menarik. Cappuccino yang baik lapisan atasnya berwarna keemasan sehingga nampak kontras dengan susunya. Cara mudah untuk membedakan antara caffe latte dan cappuccino adalah dengan menggunakan sendok kecil. Dengan buih yang lebih tebal, cappuccino bisa menahan sendok kecil tidak tenggelam, sedangkan foam caffe latte yang lebih tipis tidak akan kuat menahan berat sendok.

kopidewa

Menyuguhkan fakta dan info lengkap tentang kopi meliputi sejarah, trend, hingga bisnis kopi Indonesia dan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *