Apa Itu Manual Brewing?

apa-itu-manual-brewing

Sebagai minuman yang paling banyak dikonsumsi setelah air putih, kopi tentu saja memiliki berbagai cara penyeduhan dan penyajian. Sebut saja espresso, long black, latte, cappuccino, dan yang sedang populer saat ini adalah manual brew coffee. Namun apa itu manual brewing? Apa bedanya dengan kopi-kopi lainnya?

Sejarah Singkat Penyeduhan Kopi

Cara tertua mengolah minuman kopi hitam mungkin ditemukan oleh bangsa Turki. Kopi sangrai digiling sangat halus kemudian direbus bersama air di dalam panci kecil bernama Ibrik sampai mendidih. Cara ini menghasilkan kopi hitam pekat dengan sisa ampas kopi sangat banyak.

Oleh pedagang Gujarat India, teknik merebus ini dibawa ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Alih-alih merebus kopi sampai mendidih, orang Indonesia hanya menyiramkan air panas ke dalam gelas berisi kopi. Cara ini masih populer sampai sekarang dan terkenal dengan istilah tubruk.

Penemuan Mesin Espresso

Pada tahun 1884 mesin espresso pertama ditemukan di Italia. Kata espresso yang berarti cepat menggambarkan waktu menyeduh yang singkat juga cara minumnya yang kilat. Dengan mesin ini, kopi bisa disajikan dalam waktu kurang dari 1 menit dan disesap dalam 2-3 teguk saja. Hal ini menyesuaikan dengan keadaan pekerja urban yang penuh kesibukan, namun tetap membutuhkan suplai kafein di sela waktu istirahatnya.

Kehadiran espresso membuka peluang bagi hadirnya berbagai minuman lain berbahan dasar espresso. Teksturnya yang kental dan pekat membuat espresso dapat dicampur dengan susu atau air tanpa mengubah rasanya menjadi hambar. Campuran espresso dengan susu menghasilkan minuman latte juga cappuccino yang rasa dan teksturnya sangat berbeda dengan kopi biasa yang dicampur susu.

Anggapan keliru yang banyak beredar di masyarakat adalah kopi yang dicampur susu adalah cappuccino atau latte. Padahal resep asli cappuccino membutuhkan espresso sebagai bahan dasarnya. Dan membuat espresso membutuhkan peralatan khusus, tidak bisa dengan cara seduh biasa.

Apa Itu Manual Brewing?

Lain di Italia, lain juga di Jerman. Pada tahun 1908, karena bosan minum kopi yang berampas, seorang inventor wanita asal Jerman bernama Melitta Bentz menciptakan alat pour-over kopi pertama. Terbuat dari tembaga dan menggunakan kertas buku tulis sebagai filternya, alat ini terus berevolusi dan menginspirasi kemunculan alat seduh kopi lainnya.

Kemajuan teknologi membuat orang makin “malas” menyeduh kopi. Drip coffee maker elektrik menggantikan tangan manusia dalam menuang air ke atas bubuk kopi. Cepat dan praktis pun menjadi alasan utama.

Namun, orang kembali bosan dengan kopi buatan mesin yang rasanya selalu monoton. Saat itulah teko dan tangan kembali menggantikan pompa air otomatis. Gerak tangan manusia yang tidak konsisten malah menghadirkan rasa “manusiawi” tidak didapatkan oleh mesin. Istilah manual brew pun muncul untuk membedakan seduhan mesin dengan seduhan tangan manusia.

Di saat yang bersamaan, mesin espresso mengalami perkembangan yang cukup pesat. Namun karena harganya mahal dan cara pengoperasiannya yang lebih rumit, mesin espresso lebih banyak dipakai di kedai kopi besar. Electric coffee maker populer di kantor, hotel, dan restoran untuk menunjang ritme hidup yang cepat. Dan alat seduh manual banyak hadir di rumah-rumah untuk sentuhan yang lebih personal.

Berbagai alat seduh manual pun muncul. Mulai dari Chemex, syphon, french press, Kalita Wave sampai Aeropress. Dengan berbagai karakter unik cara penggunaan hingga karakter rasa yang didapatkan. French press digemari oleh penikmat body tebal, sedangkan Chemex lebih menghasilkan citarasa yang bersih.

Kehadiran Hario V60 pada tahun 2005 makin mempopulerkan cara seduh manual yang hampir dilupakan orang. Dengan berbagai pilihan cara seduh kopi, metode seduh apa yang menjadi favoritmu?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *